Warga Petulu Tangkar Burung Kokokan Demi Puaskan Wisatawan

Misbahol Munir 08 Juli 2018 07:56 WIB
dana desaWisata Bali
Warga Petulu Tangkar Burung Kokokan Demi Puaskan Wisatawan
Kepala Desa Petulu Tjokorda Agung Setia Dharma (kanan) didampingi Kepala Dusun Banjar Petulu Gunung Made Rawo. Foto: Misbahol Munir/Medcom.id
Gianyar: Bali tak hanya terkenal dengan wisata pantai dan pura. Pulau ini menyimpan banyak destinasi wisata. Pulau Dewata ini seakan tercipta khusus untuk tempat liburan dan wisata. 

Tak heran bila warga adat belomba-lomba menjadikan dusun atau desa sebagai destinasi menarik untuk para wisatawan. Mancanegara maupun dalam negeri. Meski telah membudaya, berbagai rintangan kerap dialami warga dalam memberikan pelayanan maksimal. Seperti yang dialami warga adat Dusun Banjar, Petulu, Ubud, Gianyar. 

Burung Kokokan atau Bangau Putih adalah habitat terbaik di Desa Petulu. Bagi orang yang memiliki hobi melihat burung di situlah wilayah terbaik. Namun persoalaan menghinggapi warga ketika burung Kokokan justru bermigrasi sejak Februari hingga Agustus. Tentu para wisatawan akan kecewa bila gagal melihat ratusan burung Kokokan cantik itu berterbangan di angkasa Desa Petulu.


Masyarakat mencari cara agar wisatawan nyaman melihat burung Kokokan di atas pohon-pohon yang dilindungi di sepanjang jalan Desa Petulu.

Caranya adalah dengan membangun penangkaran burung Kokoan. Kepala Desa petulu Tjokorda Agung Setia Dharma yang didampingi Kepala Banjar Petulu Gunung Made Rawo mengatakan penangkaran burung Kokoan dilakukan menggunakan dana desa sebesar Rp259 juta. Penggunaan dana desa itu, kata dia, atas kesepakatan warga. 

“Selain menyelamatkan ekosistem burung juga untuk pemberdayaan masyarakat Desa Petulu melalui program padat karya tunai (PKT),” ujar Tjokorda di lokasi pembangunan penangkaran burung Kokokan di Dusun Banjar, Petulu, Ubud, Gianyar, saat disambangi rombongan wartawan Kementerian Desa, PDT dan Daerah Tertinggal, Sabtu, 7 Juli 2018.

Baca: Dana Desa Didorong untuk Percepatan Pertumbuhan Ekonomi

Menurut dia, ide penangkaran ini awalnya untuk menyelamatkan anak-anak burung Kokokan yang ditinggalkan induknya. Juga untuk memuaskan para turis yang ingin melihat burung Kokokan yang muncul pada Oktober hingga Maret.

“Sementara di bulan lainnya sepi. Makanya penangkaran ini dibuat untuk memuaskan wisatawan yang ingin melihat burung Kokokan di luar musimnya,” sebutnya

Dia berharap upaya ini bisa meningkatkan pendapatan daerah lewat restribusi yang dipungut dari wisatawan. Menurut Tjokorda, wisata burung Kokokan ini sudah ada sejak 1965. Berkat pengembangan wisata burung Kokokan ini, lanjut dia, Desa Petulu menerima penghargaan Kalpataru dari Presiden ke-2 RI Soeharto dan Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pada 2005.

Selain hasil dari wisata burung Kokokan, menurut dia, pendapatan desa juga diperoleh dari hasil seni lukisan, kerajinan ukiran dan patung. Kata Tjokorda, pengelolaan penghasilan dari pengembangan dana desa ini kerja sama dengan Badan Usaha milik Desa (BUMDes).



(AZF)