Made mengaku temuannya itu tak disengaja pada 2012. Saat hendak panen di sawahnya di Desa Suberata, Made menemukan padinya bukan putih, tapi ungu.
"Awalnya ujung-ujung yang ada rambut bulirnya itu warna ungu,” jelas Karma ketika berbincang dengan Medcom di Desa Anka, Jumat 2 Februari 2018.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Setelah panen, Karma penasaran. Ia lalu bereksprimen mencampur ekstrak kulit manggis dan urin sapi sebagai pupuk organik. Kemudian ia menggunakan campuran tersebut untuk menyuburkan tanah dan tanamannya.

(Made Karma, petani di Tabanan, Bali, yang menggunakan ekstrak kulit manggis untuk menciptakan padi berwarna ungu, Medcom.id - Raiza)
Beberapa pekan kemudian, padinya berubah warna. Bukan hanya kulit, bagian dalam padinya pun berwarna ungu.
Karma menjelaskan setiap 20 hektare lahan, ia membutuhkan 50 liter ekstrak kulit manggis dan 50 liter urin sapi. Setelah diuji laboratorium, padi ungu mengandung pitonutrien resparator. Artinya kadar antioksidan dan glutaminnya tinggi.
“Kemarin setelah diuji nutrisi pigmen ungunya mengandung pitonutrien resparator itu pigmen ungu mengandung antioksidan kuat dan kaya serap. Beras ungu bagus untuk penderita diabetes. Karena kadar gulanya rendah," ujar Karma.
Karma mengatakan warna ungu di berasnya tidak akan luntur meski dilakukan proses pencucian sebanyak tiga kali. Sebab, warna ungu sudah menjadi warna inti beras yang merupakan kandungan antioksidan tinggi dari kulit manggis tersebut.

(Padi ungu hasil kreasi petani di Tabanan, Bali, Medcom.id - Raiza)
“Kalau masaknya dengan beras putih satu kilo segenggam beras ungu sudah ungu semua seperti pewarna begitu. Kalau beras ungu saja yang dimasak rasanya akan asam karena dari ekstrak kulit manggis itu, makanya harus dicampur,” imbuhnya.
Saat panen, Karma mengaku mampu memproduksi 6,2 ton beras ungu. Menariknya, kata dia, proses panen padi ungu lebih singkat ketimbang beras putih.
Untuk harga jual beras ungu, menurut Karma, sudah sesuai dan sebanding dengan proses produksi yang dikeluarkan. Harga beras ungunya pun beragam sesuai dengan tingkat keistimewaannya.
“Kalau organik biasa Rp25ribu per kilogram. Kalau yang grade premium itu bisa Rp40 ribu per kg tergantung dari penanganan padinya, seperti ada yang ekonomis dan eksklusif lah,” tandasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
