Jumlah sampah plastik yang begitu banyak membuat Horner beberapa kali harus menyibak arus untuk memudahkannya melihat pemandangan saat menyelam.
Menanggapi hal tersebut Aktivis Lingkungan Leonard Lumanauw mengakui bahwa sampah plastik memang kerap menutupi spot diving di Manta Point. Namun hal tersebut hanya terjadi pada masa puncak musim hujan.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Memang Bali dilanda hujan deras dari minggu-minggu sebelumnya dan itu hal biasa karena di musim hujan banyak sampah yang akan berkumpul di sana," katanya, melalui sambungan Skype, di Selamat Pagi Indonesia, Jumat 9 Maret 2018.
Leonard menduga video tersebut di ambil saat puncak musim hujan terjadi di Bali, kendati Rich Horner baru mengunggahnya pada 3 Maret 2018 lalu.
Ia mengatakan spot diving di Manta Point memang berbentuk seperti teluk sehingga ada pertemuan arus yang kerap membawa plastik dan terakumulasi di titik tersebut.
"Dan biasanya sampah itu hanya 2-5 hari, setelah hari keenam dia akan hilang terbawa arus ke belahan bumi lain," katanya.
Meski kerap 'disinggahi' sampah, Leonard memastikan bahwa kondisi Manta Point saat ini sudah bebas dari sampah. Dari video yang ia ambil pada 8 Maret kemarin, tampak seekor ikan pari berenang bebas tanpa sampah di atas permukaan air.
Ia mengatakan kebersihan laut terutama di spot diving Manta Point terus dijaga dengan membersihkan sampah dari pantai dan perairan. Tak hanya itu, ia bersama rekan penyelam di Bali kerap pula mengajak turis yang menyelam di lokasi tersebut untuk ikut memungut sampah di laut.
"Khusus penyelam profesional di Bali, kami selalu membawa mesh bag atau kantong jaring setiap penyelaman. Kita juga mengajak tamu kita yang menyelam untuk sama-sama mengambil sampah," ungkapnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(MEL)
