Kabupaten Bandung mengekspor 54 ton jahe senilai Rp680 juta ke Bangladesh, Minggu, 30 Juni 2019. Medcom.id/ Roni Kurniawan.
Kabupaten Bandung mengekspor 54 ton jahe senilai Rp680 juta ke Bangladesh, Minggu, 30 Juni 2019. Medcom.id/ Roni Kurniawan. (Roni Kurniawan)

Kabupaten Bandung Ekspor 54 Ton Jahe ke Bangladesh

ekspor-impor
Roni Kurniawan • 30 Juni 2019 18:39
Bandung: Kabupaten Bandung merupakan salah satu wilayah produktif penghasil komoditas hortikultura di Indonesia. Bahkan Kabupaten Bandung sudah mengekspor sayuran dan buah-buahan karena potensi alamnya yang sangat mendukung. 
 
Kabupaten Bandung kini juga menambah daftar komoditas ekspornya dengan mengekspor rempah jahe ke Bangladesh. Eskpor jahe tersebut merupakan yang pertama dilakukan Kabupaten Bandung ke negara Asia bagian timur itu.
 
"Berkat budidaya hortikultura yang baik, hari ini kami mengawal jahe dari Kabupaten Bandung untuk pertama kalinya masuk pasar Bangladesh," kata Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil di Rancaekek, Kabupaten Bandung, Minggu, 30 Juni 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebanyak 54 ton jahe senilai Rp680 juta dieskpor ke Bangladesh sebagai tahap awal untuk tahun 2019 ini. Langkah tersebut diharapkan akan menambah nilai ekonomi ekspor komoditas pertanian di tahin ini.
 
Berdasarkan data sistem otomatisasi perkarantinaan, IQFAST di unit pelaksana teknis Bandung, total nilai ekonomi ekspor komoditas pertanian di Bandung tahun 2018 tercatat total Rp1,6 triliun. Sementara dipertengahan tahun 2019 nilai ekapor komoditas pertanian telah mencapai Rp3,3 triliun. 
 
"Alhamdulillah, baru setengah tahun tapi sudah bisa tembus hampir 300 persen dari capaian ekspor tahun 2018," jelas Jamil.
 
Jamil menuturkan seluruh jajaran di Kementerian Pertanian termasuk Barantan sesuai instruksi Menteri Pertanian, Amran Sulaiman untuk terus melakukan terobosan dan inovasi untuk mengakselerasi dan meningkatkan ekspor komoditas pertanian. 
 
Menurut Jamil, pihaknya mendorong ekspor dengan empat kebijakan operasional perkarantinaan, yakni melakukan pemeriksaan karantina di gudang pemilik, inline inspection agar proses bisnis ekspor selain lebih terjamin juga lebih cepat serta   memberikan Layanan Prioritas bagi pelaku eksportir yang patuh karantina.
 
"Selanjutnya adalah memperluas akses pasar melalui protokol karantina, manajement risk analysis (MRA), kerjasama bilateral dan multilateral lainnya dan selanjutnya Barantan juga telah menerapkan sertifikat elektronik, e-Cert ke negara tujuan ekspor yang telah memilki kesiapan sistem ini," beber Jamil.
 
Dengan e-Cert, lanjutnya, negara tujuan telah mendapatkan informasi teknis komoditas yang akan diekspor sebelum produk tiba. "Ini akan mempercepat dan produk yang diekspor terjamin diterima, tidak akan ditolak saat tiba," pungkas Jamil.
 
Sementara Kepala Karantina Pertanian Bandung, Iyus Hidayat juga memaparkan selain jahe yang di ekspor, pada saat yang bersamaan dilakukan ekspor Kopi sebesar 19,2 ton dengan nilai Rp1,64 miliar tujuan Korea Selatan dan makanan kering tujuan Philipina sebanyak 210 ton nilai Rp6,6 miliar.
 
"Meski makanan kering tidak termasuk komoditas pertanian, namun ini sesuai dengan mempersyaratkan adanya jaminan kesehatan dan keamanan, Phytosanitary Certificate," ungkap Iyus.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif