Saksi ahli dari Forensik RS Polri dihadirkan dalam sidang lanjutan dugaan penganiyaan oleh Bahar bin Smith di Gedung Arsip dan Perpustakaan, Kota Bandung, Rabu 24 April 2019.
Saksi ahli dari Forensik RS Polri dihadirkan dalam sidang lanjutan dugaan penganiyaan oleh Bahar bin Smith di Gedung Arsip dan Perpustakaan, Kota Bandung, Rabu 24 April 2019. (Aditya Prakasa)

Ahli Forensik Beberkan Luka Memar Korban Bahar Smith

penganiayaan anak
Aditya Prakasa • 24 April 2019 15:43
Bandung: Saksi ahli forensik RS Polri menyatakan luka memar yang diderita Cahya Abduk Jabar, 17, korban penganiayaan Bahar bin Smith akibat benda tumpul. Hasil pemeriksaan menunjukkan korban mengalami gegar otak, pendarahan di kedua bola mata, dan memar di beberapa bagian tubuh. 
 
Kesaksian itu disampaikan doter Abe Umaro yang dihadirkan sebagai saksi ahli oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Abe mengungkap luka memar korban diketahui pertama kali pada 5 Desember 2018 saat dibawa penyidik ke RS Polri.
 
"Ada pendarahan, seperti bercak di bola mata bagian putihnya, ada bercak darah. Kesimpulan yang didapatkan ditemukan luka memar di kelopak mata kiri, pendarahan di selaput bening (bola mata). Luka akibat benda tumpul," kata Abe di Gedung Arsip dan Perpustakaan, Kota Bandung, Rabu 24 April 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca:Bahar bin Smith Jadi Tersangka Kasus Penganiayaan
 
Abe menjelaskan luka memar yang dialami korban masuk kategori ringan. Korban butuh waktu lima hari untuk pemulihan. 
 
"Memar bisa hilang dengan obat-obatan. Cedera kepala ringan, benturan struktur kepala menyebabkan gangguan fungsi otak sementara," ucap Abe.
 
Dia sempat bertanya ihwal asal luka yang dialami saat memeriksa. Saat itu, korban mengaku dikeroyok.
 
"Saya tanya dia bilangnya habis dikeroyok," kata Abe.
 
Baca: Bahar bin Smith Menanti Persidangan
 
Bahar bin Smith dilaporkan ke Polres Bogor dengan nomor laporan LP/B/1125/XI/I/2018/JBR/Res Bgr tertanggal 5 Desember 2018. Dalam laporan itu, Bahar bin Smith dan beberapa orang lainnya diduga secara bersama-sama di muka umum melakukan kekerasan terhadap orang dan atau penganiayaan dan/atau melakukan kekerasan terhadap anak.
 
Perbuatan itu diduga bertentangan dengan Pasal 170 KUHP dan atau 351 KUHP dan atau Pasal 80 Undang-Undang Tahun 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
 

(LDS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif