"Siap, jadi kalau memang belum puas silakan saja, tapi kalau saya sendiri sudah close," kata Pollycarpus di Balai Pemasyarakatan (Bapas) Kelas I Bandung, Rabu 29 Agustus 2018.
Pollycarpus mengatakan, banyak kejanggalan mengenai kasus tewasnya Munir. Dia pun membantah apabila masih disebut-sebut sebagai pembunuh Munir pada 7 Desember 2004 lalu.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Dia menyebut kejanggalannya adalah dia dituduh membunuh dengan cara memasukan racun arsenik ke dalam mie goreng yang disantap Munir saat penerbangan menuju Singapura. Munir pun meninggal di kursinya saat dua jam sebelum mendarat di Amsterdam.
"Jadi waktu itu tuduhannya dengan memasukkan (racun arsenik) ke orange jus, tapi vonisnya ke dalam mie goreng. Sedangkan mie goreng tidak ada di dalam dakwaan," kata dia.
"Saya minta pembuktiannya juga enggak bisa yah, kalau dilihat dari hasil autopsi dan lain-lain itu enggak masuk, dan enggak matching semua," ucap Pollycarpus melanjutkan.
Kejanggalan lainnya mengenai kasus yang dituduhkan kepadanya seperti locus delicti atau tempat terjadinya tindak pidana berbeda-beda. Pertama, Munir diduga dibunuh saat penerbangan Jakarta-Singapura, kemudian dugaan lain diracun saat dari Singapura-Amsterdam.
Namun pada 12 Desember 2005, Majelis hakim menjatuhi hukuman 14 tahun penjara padanya. Dia dinyatakan terbukti melakukan pembunuhan berencana terhadap Munir dengan cara memasukkan racun arsenik ke dalam mie goreng yang disantap Munir saat penerbangan dari Jakarta menuju Singapura.
Tak hanya itu, Pollycarpus juga menyebutkan, hasil autopsi di Amerika racun telah ada di dalam tubuh Munir selama sembilan jam, namun Kepolisan Belanda menyatakan delapan jam sebelum meninggal.
"Kalau ditarik mundur satu jam 25 menit setelah take off dari Singapura, sedangkan saya turun di Singapura, ini Pembunuhan yang ketiga kali," jelas dia.
Dugaan lainnya, lanjut dia, Munir dibunuh dengan cara diracun di Cafe Bean di lantai tiga Bandara Singapura. Namun pada saat itu, dia mengaku berada di lantai dua.
"Cafe bean itu letaknya di lantai tiga sedangkan di kedatangan itu di lantai dua. Sedangkan saya keluar dari pesawat, saya langsung ke custom ke imigrasi, lansung cek ke bus dan langsung ke hotel, dan itu sudah direkonstruksi," kata dia.
"Yang lebih janggal lagi, sudah inkrah, sudah dijalani, kemudian dihukum dengan kasus yang sama dengan locus delic yang berbeda, bagaimana bisa Munir dibunuh empat kali, hebatkan," kata dia menambahkan.
Pollycarpus mengatakan, selama berada di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas), banyak orang yang mengalami nasib sama sepertinya. Tapi, kata Pollycarpus, kasus-kasus sepertinya tak terkekspose.
"Saya fokus dengan kerjaan saya gak mikirin gitu lagi sudah berlalu kita sudah jalani," ucap dia menambahkan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(ALB)
