Warga Terdampak Tol Cijago Khawatirkan Longsor
Deretan rumah yang terkena dampak pembangunan tol Cijago, Depok, Jawa Barat, Senin, 5 November 2018, Medcom.id - Octa
Depok: Warga di Kukusan, Kecamatan Beji, Kota Depok, Jawa Barat, khawatir longsor melanda rumah mereka. Namun, mereka tetap bertahan di lokasi tersebut meski pekerja tengah membangun jalur tol Cinere-Jagorawi Sesi II.

Hingga Senin, 5 November 2018, enam kepala keluarga enggan meninggalkan rumah. Sebab, mereka belum menyepakati harga yang ditawarkan untuk membebaskan lahan tersebut.

"Di dalam konsinyasi ditetapkan nilai harga lahan (appraisal) tahun 2015, angka terendah Rp6,9 juta per meter dan paling tinggi Rp24,4 juta per meter. Itu tiga tahun lalu. Sekarang sudah 2018," ungkap Syamsuddin, perwakilan warga yang enggan pindah dari Kukusan.


Syamsuddin mengatakan ia dan rekan-rekannya bersedia menyerahkan lahan untuk pembangunan tol Cijago Sesi II. Asalkan, pemerintah membicarakan ulang mengenai appraisal.

"Warga juga sudah lelah. Tapi kalau untuk kebenaran, kami akan berjuang," ungkap Syamsuddin.

Syamsuddin menerangkan 25 lahan dan rumah terkena dampak pembangunan tol. Secara perlahan, 19 warga pindah keluar dari Kukusan. Namun bukan berarti mereka menyepakati appraisal. 

Sementara enam warga bertahan. Satu di antaranya Syamsuddin yang masih menempati rumahnya bersama istri dan anak-anaknya.

Mereka masih menunggu hasil gugatan terkait appraisal di Pengadilan Negeri Kota Depok. Rencananya, sidang putusan mengenai appraisal digelar pada 14 November 2018. 

Syamsuddin mengaku ia dan keluarga pun khawatir bila terlalu lama bertahan di Kukusan. Sebab, longsor mengancam keselamatan mereka.

"Tanah di sekitar kami kan sudah dikeruk untuk pembangunan tol. Kami khawatir itu berujung longsor," lanjut Syamsuddin.

Sementara itu Kepala Pengadilan Negeri Kota Depok Sobandi menerangkan ada yang perlu dipahami dalam proses hukum pembebasan lahan tersebut. 

"Pemahaman hukumnya bukan seperti kasus konvensional biasa, namun lebih pada konsep pengadaan tanah negara yang memiliki kepentingan," katanya.

Menurutnya, apabila warga merasa nilai konsinyasi terhadap lahannya tidak sesuai, nanti bisa diminta untuk dilakukan penambahan.

"Uang konsinyasi ini, sudah dipegang pengadilan jadi ketika warga keberatan nanti uang ganti ruginya akan ditambahkan," jelasnya.

Selanjutnya, Sobandi menegaskan pihaknya telah mengeluarkan penetapan pengosongan untuk lahan warga tersebut.

"Surat perintah pengosongan telah kami keluarkan, jadi lahan itu sudah milik pemerintah warga tidak punya hak atas tanah tersebut, namun memiliki hak atas besaran atau nilai jual tanahnya," pungkasnya.

Tol Cinere-Jagorawi membentang sepanjang 3,7 kilometer dari Cinere, Depok menuju Jagorawi. Bentangan tol tanpa melewati Lenteng Agung dan Pasar Minggu. 

Jalan tol ini merupakan bagian dari Jalan Tol Lingkar Luar Jakarta 2. Jalur tol itu dikelola PT Translingkar Kita Jaya bekerja sama dengan PT Hutama Karya selaku kontraktor pelaksana.



(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id