Kasus Pencabulan di Depok Introspeksi Semua Pihak
Ilustrasi. Medcom.id/Mohammad Rizal.
Jakarta: Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) prihatin dengan kasus pencabulan oknum guru terhadap belasan muridnya di Depok, Jawa Barat. Sekolah yang seharusnya merupakan tempat yang aman justru menjadi tempat tercabutnya hak anak akan keamanan dalam mendapatkan pendidikan.

"Ini harus menjadi introspeksi semua pihak bahwa menangani anak korban pelecehan seksual bukan dengan polisi saja, tapi sudah berkaitan dengan sebuah sistem," ungkapnya, dalam Metro Siang, Jumat, 8 Juni 2018.

Menurut Retno, memastikan anak mendapatkan hak-haknya dalam segala aspek harus didukung oleh sebuah sistem. Tak cuma kasus kekerasan seksual yang berpotensi terjadi di sekolah, anak-anak juga harus dijamin keamanannya di mana pun mereka berada. 


Retno mengatakan undang-undang sudah memerintahkan kepada siapa pun untuk melindungi anak. Ketika kekerasan seksual terjadi di sekolah, pertanggungjawabannya terhadap semua, bukan saling menyalahkan. 

"Membangun sistem itu sekarang kalau teknologi sudah ada, misalnya CCTV. Andai di sekolah ada CCTV tentu kejadian di kelas itu mungkin tidak perlu terjadi. Artinya harus ada antisipasi sejak awal," tutur Retno.

Tak hanya faktor eksternal, dari sisi internal, anak harus dibekali keberanian untuk bicara. Utamanya, ketika mereka menghadapi masalah seperti kekerasan seksual.

Budaya masyarakat Indonesia masih tabu membicarakan tentang seks. Padahal yang dimaksud bukan hubungan antarpasangan melainkan pendidikan bahwa ada bagian tubuh tertentu yang tidak boleh disentuh sama sekali oleh orang lain.

"Bekali anak untuk berani berteriak ketika tidak bisa melawan. Kalau ternyata dia korban segera laporkan, minimal orang tua tahu. Ini satu hal penting yang harus dididik pada anak-anak," jelas dia.





(MEL)