Mimpi Punya Rumah Ditikung Pengembang Bodong

Farhan Dwitama 26 November 2018 12:08 WIB
penipuan
Mimpi Punya Rumah Ditikung Pengembang Bodong
Agustina Damayanti, korban pengembang rumah subsidi Bumi Berlian Serpong, Senin 26 November 2018. Medcom.id/Farhan Dwitama
Tangerang: Ary Andryanto warga Reni Jaya, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, sudah tertipu janji palsu pengembang. Dia masih berharap memiliki rumah bersubsidi karena telah mengeluarkan uang Rp26 juta sebagai uang tanda jadi pada 2016.

Tapi apa daya. Tak hanya dia yang tertipu pengembang bodong memiliki rumah murah di wilayah Desa Curug, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor.

"Ternyata saya tertipu dan bukan sendiri. Ada ratusan orang juga yang menjadi korban penipuan developer bodong ini," katanya di Tangerang Selatan, Minggu, 25 November 2018.
 
Ary mendapat informasi dari tetangganya, soal penjualan rumah bersubsidi ‘Bumi Berlian Serpong’ (BBS) yang akan dikembangkan oleh PT Cakrawala Karya Kinakas di kawasan Gunung Sindur, kabupaten Bogor.


Ditambah dorongam sang istri untuk memiliki hunian mandiri, dia mendatangi kantor pemasaran pengembang PT Cakrawala Karya Kinakas di kawasan Vila Dago, Pamulang, pada 2016.

"Saya tanya-tanya detail dan langsung diajak melihat lokasi rumah yang akan dibangun di Curug, Gunung Sindur. Akhirnya saya bayar booking fee Rp3,5 juta," ucapnya.

Ary tak cukup percaya dengan melihat lokasi rumah subsidi yang baru berdiri 10 bangunan setengah jadi. Dia juga mencari informasi berdasarkan jejak digital pengembang.

"Saya browsing-browsing engga ada rekam jejak yang jelek. Enggak ada track recordnya malah. Akhirnya saya dan istri setuju dan membayar DP sebesar Rp22,5 juta,” terang dia.

Dia dijanjikan pengembang akad kredit setelah 3 bulan setelah pelunasan DP. Dia memilih kavling Blok AC 3 tipe 30/60 dan rumah jenis 2+1 kamar.

"Kalau cashnya dihargai Rp133,5 juta,” ucap dia.

Secara harga, rumah tersebut masuk akal. Dia pun tak ragu karena KPR lewat bank resmi penyalur. Bukan menyicil lewat pengembang.

Hal serupa dialami Agustina Damayanti, yang kadung melunasi uang muka dan tanda jadi sebesar Rp 25 juta pada 2016.

"Saya sebenarnya masih berharap bisa punya rumah, tapi melihat kenyataannya begini rasanya pasrah saja. Apalagi BBS itu ratusan orang korbannya, unit yang saya pesan saja dobel pembeli," kata dia.

Mereka berharap polisi bisa segera menangkap pemilik perusahaan, John Sumantri, yang sudah jadi buronan. Mereka juga berharap uang muka yang disetorkan bisa kembali.

“Bagaimana caranya uang saya bisa kembali, penipunya si John ditangkap. Kalau punya rumah di situ rasanya sudah enggak kepingin,” kata dia.



(SUR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id