Pasar Impres Memadai Tampung Pedagang di Pasar Sederhana

Roni Kurniawan 06 Oktober 2018 15:03 WIB
pasar
Pasar Impres Memadai Tampung Pedagang di Pasar Sederhana
Wali Kota Bandung berdiskusi dengan pedagang di Pasar Sederhana pascakebakaran, Sabtu 6 Oktober 2018. Attachments area
Bandung: Pemerintah Kota Bandung berencana akan merelokasi sementara para pedagang Pasar Sederhana yang terbakar ke Pasar impres. Tapi, jumlah lapak di Pasar Impres tak cukup untuk menampung para pedagang.

Direktur Umum, Adminsitrasi, dan Keuangan PD Pasar Bermartabat, Andri Salman mengatakan, Pasar Impres hanya bisa menyediakan sekitar 230 lapak. Sementara, lapak yang dibutuhkan berjumlah 395. Jumlah itu mengacu 395 lapak di Pasar Sederhana hangus dilahap si jago merah pada Jumat malam, 5 Oktober 2018.

Andri mengaku pihaknya kini tengah mendata ulang para pedagang yang telah kehilangan lapak. "Kita sekarang lagi mendata kembali, silakan pedagang yang lapaknya kebakar untuk segera laporan ke kami agar terdata," kata Andri di Pasar Sederhana, Sabtu, 6 Oktober 2018.


Baca: Pedagang Pasar Sederhana Bandung bakal Direlokasi

Andri megatakan, berdasarkan data yang ada di PD Pasar Bermartabat hanya sekitar 192 lapak yang aktif berjualan di Pasar Sederhana. Relokasi sementara ke pasar impres pun diyakini akan memadai jika melihat jumlah lapak yang aktif digunakan untuk berjualan.

"Yang aktif berjualan setiap hari hanya sebanyak 192 lapak. Sedangkan sisanya tutup ataupun kosong. Jadi bisa kita relokasikan sementara ke Pasar Impres," sambungnya

Andri pun menargetkan pekan depan para pedagang sudah bisa kembali berjualan di pasar impres sebagai tempat sementara hingga dipulihkannya kembali Pasar Sederhana.

Andri mengatakan, penyebab terjadinya kebakaran masih diselidiki oleh pihak yang berwajib. Namun berdasarkan data dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penanggulan Bencana, kobaran api di Pasar Sederhana diakibatkan meledaknya sebuah kompor yang berada di salah satu lapak pasar tersebut.

"Jadi kita sudah sering melarang pedagang itu untuk menghuni lapak. Karena dikhawatirkan beberapa kios ada aktifitas memasak di malam hari. Itu yang tidak terkendali," pungkasnya.



(ALB)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id