Timur Tengah, Kawasan 'Favorit' TKI asal Majalengka
Ilustrasi kekerasan pada buruh imigran, Medcom.id
Majalengka: Desa Cikeusik, Kecamatan Sukahaji, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, merupakan kantong buruh migran. Satu di antaranya Tuti Tursilawati, warga Majalengka yang menjadi tenaga kerja wanita di Arab Saudi dan menjalani eksekusi di negara tersebut.

Zaenuddin, Kepala Desa Cikeusik, mengatakan di setiap rumah, satu anggota keluarga pernah menjadi buruh migran. Zaenuddin juga mengaku pernah bekerja di luar negeri.

"Hampir di tiap rumah, ada yang pernah menjadi TKI," kata Zaenuddin, Rabu, 31 Oktober 2018.


Desa Cikeusik terdiri dari 2.800 penduduk. Kawasan Timur Tengah menjadi tujuan ratusan warga Dersa Cikeusik untuk bekerja. Alasannya, persyaratan bekerja di kawasan tersebut tak sulit.

Selain itu, masyarakat juga menganggap bahwa pekerjaan yang dilakukan di Timur Tengah, merupakan rutinitas yang biasa dilakukan. Karena, mayoritas warga Desa Cikeusik bekerja sebagai sopir, pelayan rumah makan, dan Asisten Rumah Tangga (ART). Apalagi, masyarakat menganggap Arab Saudi merupakan negara Islam, sama dengan agama yang dianut.

"Kalau di wilayah lain kan, kerjanya di perusahaan. Jadi harus punya kemampuan yang lebih tinggi," ujar Zaenuddin.

Zaenuddin mengaku sewaktu masih bekerja sebagai sopir di Arab Saudi, ia pernah mendengar kabar soal kasus yang menjerat Tuti. Lantaran itu, ia mengingatkan warganya untuk berhati-hati dan pinter-pinter membawa diri selama di Arab Saudi.

"Satu di antaranya menyimpan kontrak kerja dan data penting lainnya. Saya tahu kondisi di sana, jadi saya selalu mengingatkan warga untuk berhati-hati bila berniat bekerja di sana," ujar Zaenuddin.

Menurut Zainuddin, bekerja di Arab Saudi harus memiliki tingkat kesabaran yang cukup tinggi. Terkadang pekerjaan yang diberikan, lebih berat, dan tidak sesuai dengan kontrak. Oleh karena itu, para TKI harus bisa menjaga emosi agar tidak melakukan tindakan yang berurusan dengan hukum.

"Cukup banyak yang jam 1 malam masih bekerja. Kalau memang mau protes harus hati-hati, jangan sampai berontak. Apalagi sampai berurusan dengan hukum," kata Zaenuddin.

Zaenudin bekerja sebagai sopir di Arab Saudi sejak tahun 2008. Ia bekerja selama 3 tahun, yaitu hingga 2011. Zaenudin mengungkapkan masih 50 orang warganya tinggal di Timur Tengah. Masa kerja mereka ditambah meski pemerintah dua negara melakukan moratorium pengiriman TKI ke Timur Tengah.

Sementara itu, Ketua Serikat Buruh Migran Indonesia (SBMI) Hariyanto mengatakan kasus Tuti bergulir pada 2003. Namun pemerintah Indonesia baru mendapatkan informasi tiga tahun kemudian.

Baca: Jokowi Memprotes Eksekusi Mati Tuti

Tuti dituduh membunuh ayah majikannya. Pada 29 Oktober 2018, pemerintah Arab Saudi mengeksekusi Tuti.

Presiden RI Joko Widodo memprotes tindakan tersebut. Sebab, Indonesia tak mendapat informasi mengenai eksekusi.

"Kita sudah menelepon Menlu Arab Saudi (Adel al-Jubeir) protes soal eksekusi itu," tegas Jokowi di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Rabu, 31 Oktober 2018.




(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id