Warga dan penderita kusta saling bercengkrama satu sama lain di Kampung eks kusta di Neglasari, Kota Tangerang. Medcom.id/Hendrik Simorangkir
Warga dan penderita kusta saling bercengkrama satu sama lain di Kampung eks kusta di Neglasari, Kota Tangerang. Medcom.id/Hendrik Simorangkir (Hendrik Simorangkir)

Cerita dari Kampung Eks Kusta Tangerang

kesehatan kisah inspiratif
Hendrik Simorangkir • 03 Maret 2019 19:54
Tangerang: Sekilas perkampungan di RT01 RW13, Kelurahan Karangsari, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Banten, layaknya permukiman pada umumnya. Namun, siapa sangka kampung yang berdekatan dengan Ibu Kota ini justru disebut kampung eks penderita kusta.
 
Gang sempit, rumah berdempetan dan latar belakang perekonomian warganya menengah ke bawah. Lokasinya tepat di belakang dari Rumah Sakit Dr. Sitanala yang tak jauh dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
 
Kampung eks penderita kusta memang merupakan lahan yang difasilitasi kementerian kesehatan bagi para penderita kusta. Penolakan atas keberadaan penderita memang dirasakan banyak pengidap kusta di sana. Entah lingkungan keluarga, tetangga sekitar rumah penderita, hingga diskriminasi warga yang tinggal di sekitar kampung eks kusta

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Eli Maruli, salah satu eks penderita kusta menceritakan. Laki-laki dengan perawakan yang cukup berotot tersebut tinggal di perkampungan tersebut dari tahun 1993. Dirinya bisa sampai di sana lantaran selalu diejek sebagai orang pesakitan.
 
Pria kelahiran Sumatera Utara ini memang divonis mengidap kusta sejak duduk di bangku sekolah dasar. Bahkan sempat putus sekolah karena banyak siswa dan orang tua murid yang tidak menerima keadaannya.
 
"Saya putus sekolah saat di SD. Teman-teman dan para tetangga pun takut untuk berdekatan dengan saya. Takut tertular kata mereka," ujar Eli saat tengah bersenda gurau dengan teman-teman di kampung kusta, Minggu, 3 Maret 2019.
 
Pria bertato ini merantau ke Jakarta tahun 1993, saat ia bersiap merantau ke Jakarta seperti layaknya pemuda Sumatera, ia dianggap sudah sembuh oleh dokter yang memeriksanya. Dengan langkah yang tegar ia pergi ke Jakarta, ke tempat sanak familinya yang tinggal di sana.
 
Ternyata, di Jakarta ia malah disuruh berobat ke Rumah Sakit Dr. Sitanala, Kota Tangerang. Maksud saudaranya baik, ingin memastikan kesembuhan Eli. Tapi ia merasa ditolak keluarganya di Jakarta. Meski dengan perasaan sedih ia tetap menuruti saran untuk berobat di sana. Sampai saat ini, Eli pun masih di kampung eks penderita kusta.
 
"Kalau dulu, jangankan teman, tetangga atau saudara mau ngobrol, ngedeketin kita aja enggak mau. Setelah disini, saya merasa ada yang menghargai, karena disini semuanya bekas menderita kusta yang sudah dinyatakan sembuh oleh RS Dr. Sitanal," kata Eli.
 
Sudah membaur
 
Saat ini, diskriminasi hanya menjadi cerita masa lalu di kampung kusta. Masyarakat non penderita sudah terbiasa bersenda gurau bersama. Saat berkunjung ke sana, jalan di kampung itu diramaikan dengan aktivitas warga.
 
Warga saling bercengkrama satu sama lain. Tidak ada pemandangan risih atau perasaan terganggu yang terlihat dari raut wajah warga biasa. Terlihat anak-anak tanpa ragu berbicara dengan penderita hingga macam-macam pedagang terlihat mondar-mandir di perkampungan.
 
Hal ini tergambar dari aktivitas yang terlihat di pos ronda di RT01 RW13. Siang itu terlihat ada lima orang yang sedang berkumpul di pos. Empat orang non penderita dan seorang lagi penderita. Saat itu terjadi obrolan santai yang membahas cincin batu alam kepunyaan salah seorang non penderita, hingga terjadi penyerahan cincin kepada penderita kusta untuk sekedar melihat dan mencoba di tangannya.
 
Sang empu pemilik cincin tanpa ragu mempersilakan cincinnya dipakai di jari Eli eks penderita. Padahal Eli dengan kondisi jarinya kebanyakan sudah terputus, hanya ibu jari di tangan kanan saja yang masih tersisa, sisa-sisa luka kustanya juga masih terlihat. Sang empu pemilik cincin tanpa ragu memakai kembali cincinnya setelah dikembalikan.
 
Cerita lain dikisahkan Kasmin, ia menuturkan, penderita kusta di kampung eks kusta pada tempo dulu sangat sulit mencari nafkah karena adanya diskriminasi.
 
"Nyari kerja sudah susah kan kondisi begini, ditambah kalau dagang kayak makanan gitu enggak bakal laku karena pada takut atau jijik kali ya," kenang Kasmin.
 
Kasmin menderita Kusta sejak umur tujuh tahun dan hingga kini masih berobat jalan. Kaki kirinya diamputasi karena kusta pada tahun 2000 dan kaki kanannya diamputasi pada tahun 2012. Jari-jarinya juga sudah hilang karena membusuk.
 
Tak boleh disingkirkan
 
Menurut Lurah Desa Sukasari, Iwan Mulyawan, hidup bersosial dengan para penderita kusta sebenarnya yang terpenting tidak melakukan komunikasi dengan rentan waktu yang lama yang menyebabkan virus dapat menular lewat udara.
 
"Saya sering mengobrol dengan mereka dan sesekali memegang tangannya untuk berjabat tangan. Artinya tidak risih," ucap Iwan.
 
Hal lain disampaikan Amir, warga kampung eks penderita kusta juga yang sudah 36 tahun berada di sana. Ia mengaku, ibunya adalah seorang penderita, namun penyakit itu tidak menulari dirinya meskipun setiap hari melakukan komunikasi di rumah.
 
"Itu tergantung kekebalan tubuh orang sih, kan kondisi orang berbeda beda," jelas Amir.
 
Lanjut Amir, komunikasi dengan penderita boleh saja, namun, pada kondisi penderita sedang kontraksi sakit, orang lain sebaiknya tidak mendekatinya dalam radius tertentu.
 
Amir yang juga merupakan Ketua RT01 RW13, menambahkan di lingkungannya terdapat lebih dari 300 jiwa penderita yang tinggal di sana, bahkan menurutnya saat ini warga penderita jumlahnya lebih sedikit daripada warga non penderita.
 
"Tambah sedikit memang jumlah penderita di sini dibanding non penderita, ya karena kebanyakan yang dulu sudah meninggal dan yang ada tinggal keluarganya yang lain yang sehat," katanya.
 
Kampung eks kusta sebenarnya bukan nama sebenarnya dari kampung ini. Tempat ini merupakan sebuah kompleks permukiman yang terlokalisir dalam satu RW di wilayah Desa Karangsari, Kecamatan Neglasari, Tangerang, Banten.
 
Dilabeli sebagai kampung eks kusta karena memang pada awalnya dulu penghuninya adalah mantan penderita kusta, yang pernah dirawat di Rumah Sakit Kusta (RSK) Dr. Sitanala. Karena menjadi tempat yang disediakan untuk para penderita kusta, maka penghuninya adalah pasien kusta yang berasal dari berbagai daerah di Indonesia.
 
Menurut Amir, sejak awal lahan itu adalah fasilitas yang diberikan pemerintah, agar para pasien kusta yang sedang berobat jalan tidak harus pulang-pergi dari daerah yang jauh.
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif