Randi dan istri menunjukkan gambar bayinya yang terpisah setelah persalinan di sebuah rumah sakit di Tangerang, Senin 1 Oktober 2018, Medcom.id - Hendrik
Randi dan istri menunjukkan gambar bayinya yang terpisah setelah persalinan di sebuah rumah sakit di Tangerang, Senin 1 Oktober 2018, Medcom.id - Hendrik (Hendrik Simorangkir)

Terkendala Biaya, Randi dan Istri Terpisah dari Bayinya

kesehatan
Hendrik Simorangkir • 01 Oktober 2018 17:07
Tangerang: Randi Ginting dan istri menunggu kehadiran bayi mereka yang lahir di sebuah rumah sakit di Tangerang, Banten. Setelah persalinan, mereka tak bisa membawa si bayi pulang karena belum melunasi sejumlah biaya.
 
Sabtu, 22 September 2018, menjadi hari yang menegangkan sekaligus membahagiakan bagi Randi dan istri. Mereka akan menyambut kehadiran bayi.
 
Randi lalu membawa istrinya ke seorang berinisial Y di Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang. Bidan Y lalu merujuk istri Randi ke rumah sakit. Sebab, persalinan harus dilakukan dengan operasi sesar.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Lalu, saat di rumah sakit saya ditawarkan paket biaya bidan. Paket itu ditawarkan langsung oleh bidan bukan dari rumah sakit," ujar Randi ditemui di rumahnya di Kelurahan Selajang Raya, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, Senin 1 Oktober 2018. 
 
Randi menjelaskan bidan menawarkan paket sebesar Rp10 juta untuk biaya persalinan. Saat prosesi telah usai dengan kondisi bayi yang normal berjenis perempuan, biaya tersebut langsung diminta ke orang tua. 
 
"Saat itu karena saya tidak punya uang, saya minta butuh waktu untuk membayarnya. Tapi, oleh bidan diminta untuk hari itu juga membayarnya," kisah Randi. 
 
Randi menambahkan bidan meminta istri dan bayinya menginap di rumah sakit. Empat hari kemudian, bidan Y menyuruh istri dan bayinya pulang. 
 
"Itu pun disuruh pulang tanpa sepengetahuan saya. Pulangnya pun tidak ke rumah saya, tapi ke tempat bidannya praktik," ujar Randi.
 
Hanya istri Randi yang diantar pulang ke rumah. Sedangkan si bayi dibawa ke tempat bidan Y.
 
Bidan Y, lanjut Randi, mengatakan kepada istrinya bahwa menitipkan si bayi ke rumah penyimpanan anak. Biaya penitipan Rp250 ribu per hari.
 
Sang istri tak bisa berbuat banyak. Tubuhnya masih lemas untuk memikirkan hal tersebut.
 
Randi lalu menemui bidan Y untuk membahas masalah biaya. Randi menawarkan pembayaran dengan layanan BPJS Kesehatan tapi bidan Y menolak.
 
"Kata bidannya, kalau pakai BPJS paket bidan dilepas olehnya. Tapi, saat itu juga bidan Yuni ngomong kalau tanpa paket bidan, biaya persalinan dari hari Sabtu hingga Rabu (22 September 2018-26 September 2018) menyentuh harga sebesar Rp17.5 juta," tutur pria berusia 30 tahun yang bekerja sebagai sopir itu.
 
Randi juga mengonfirmasi hal tersebut ke rumah sakit. Namun, ungkap Randi, pihak rumah sakit menyerahkan urusan tersebut ke bidan Y.
 
Kamis, 27 September 2018, Randi mencoba menghubungi bidan Y. Tapi nomor tujuan tak aktif.
 
"HP nggak aktif, saya datangi ke lokasi prakteknya pun tidak ada aktifitas di sana. Hingga saya coba hubungi lagi sampai hari Sabtu pun enggak aktif," ucapnya.
 
Randi lalu melaporkan kejadian itu ke Polres Metro Tangerang Kota pada Sabtu, 29 September 2018. Randi mengaku ia dan seorang polisi mendatangi tempat bidan Y praktik, tapi terkunci.
 
Randi berharap bayinya dapat kembali berkumpul bersama mereka. Sebab, sejak dibawa bidan, Randi tidak tahu kabar dan lokasi keberadaan bayinya.
 
"Berharap anak saya bisa kembali ke saya dan istri. Karena sudah enam hari ini saya tidak tahu keberadaan bidan tersebut di mana," tutupnya. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif