Ilustrasi. Foto: MI/Arya Manggala
Ilustrasi. Foto: MI/Arya Manggala (Roni Kurniawan)

Bandung Waspada Demam Berdarah

demam berdarah
Roni Kurniawan • 22 Januari 2019 14:12
Bandung: Pemerintah Kota Bandung mengeluarkan status waspada penyakit demam berdarah dangue (DBD) memasuki musim pancaroba saat ini. Pasalnya sepanjang Januari 2019 ini telah terjadi 48 kasus DBD di Kota Bandung.
 
Menurut Kepala Dinas Kesehatan Kota Bandung Rita Verita, warga perlu waspada menghadapi siklus lima tahunan virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti. Pasalnya siklus tersebut terjadi tetakhir pada 2013 silam yang menyebabkan kematian warga yang terkena wabad DBD.
 
"Sebetulnya siklus lima tahunannya jatuh pada tahun 2018. Tetapi tahun lalu alhamdulillah tidak terjadi. Tahun ini kita mewaspadai kalau-kalau terjadi di 2019 ini," ujar Rita saat dihubungi awak media, Selasa 22 Januari 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Rita menuturkan, terjadi peningkatan kasus DBD di Kota Bandung. Pada tahun 2017 sebanyak 1.715 kasus DBD. Jumlah tersebut mengalami peningkatan menjadi 2.018 kasus di tahun 2018. 
 
"Tapi kita baru akan dapat laporan keseluruhan tanggal 5 setiap bulannya. Jadi baru sebagian saja didata oleh petugas-petugas puskesmas yang di wilayahnya terdapat rumah sakit," tutur Rita.
 
Rita pun mengimbau kepada warga Kota Bandung untuk melaksanakan 3M plus, yaitu Menguras bak mandi, Menutup penyumpanan air rapat-rapat, Mengubur atau memanfaatkan kembali atau membuang ke tempatnya kaleng bekas, ban bekas, atau tempat-tempat yang memungkinkan air tergenang.
 
Selain itu, Rita juga menyarankan agar warga memasukkan abate ke dalam penampungan air agar jentik nyamuk tidak hidup di dalamnya. Pasalnya, jentik Aedes aegypti hanya bisa hidup di air yang jernih.
 
"Sebagai langkah konkret, Dinkes juga melakukan fogging di lokasi-lokasi yang diketahui ada yang terkena DBD. Kalau itu kita rutin terus sepanjang tahun," pungkasnya.
 
Tak hanya itu, Dinkes Kota Bandung juga mengaktifkan kembali tim Jumantik, atau Juru Pemantau Jentik. Dinkes memberikan pelatihan kepada kader-kader kesehatan di tiap RW untuk melakukan monitorin dan edukasi di lingkungan rumahnya.
 
"Jumantik itu kader kesehatan, mereka dilatih jadi kader jumantik. Mereka juga melatih masyarakat cara melihat jentik, membuang, mengubur, membersihkan jentik, dan lain-lain," katanya.

 

(ALB)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif