Perang yang terjadi di Desa Kedondong, Kecamatan Susukan, Cirebon, itu terjadi mulai tahun 1802 hingga 1818. Perang muncul lantaran warga setempat memprotes keputusan Belanda menerapkan pajak dengan nilai yang tinggi. Warga marah lantaran nilai pajak mencekik masyarakat.
Pangeran dari Kekeratonan Cirebon juga memahami kemarahan warga. Ia pun keluar dari kenyamanan keraton dan bergabung dengan rakyat melawan penindasan Belanda.
“Perang ini juga diperkirakan sebagai salah satu penyulut pemberontakan rakyat Indonesia terhadap Belanda. Salah satunya adalah Perang Diponegoro yang terjadi setelah Perang Kedongdong," kata Kiai Zamzami, Pengasuh Pondok Pesantren Babakan Ciwaringin dan Sejarawan Cirebon, kepada Metrotvnews.com, Sabtu (7/11/2015).
Strategi Perang Kedondong, kata Zamzami, berbeda dengan taktik gerilya yang diterapkan Pangeran Diponegoro. Strategi itu dikenal dengan perang tutup kembu. Caranya yaitu memancing musuh ke perangkap.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Saat itu, pejuang memancing penjajah Belanda keluar dari benteng. Penjajah kemudian mengejar pejuang ke daerah Jatitujuh, Majalengka. Setelah masuk perangkap, pejuang langsung mengepung dan menyerbu penjajah. Perang pun terjadi.
Ada juga yang menyebut Perang Kedondong seperti Perang Santri. Sebab, pencetus perang tersebut tak lain Kiai Jatira yang berasal dari kalangan santri. Kiai Jatira merupakan pendiri Pondok Pesantren Babakan. Ada juga nama pejuang lain seperti Bagus Rangin, dan Bagus Serit.
Nurdin M Noer, sejarawan Kota Cirebon, mengatakan sebutan Bagus itu merupakan panggilan kehormatan untuk keluarga Pesantren. Hingga kini, sebutan itu masih digunakan di kalangan pesantren du Cirebon.
"Kalau Pangeran Diponegoro memiliki keturunan ningrat. Kalau bagus Rangin diperkirakan merupakan keluarga pesantren," kata Nurdin.
Menurut Nurdin, pemberontakan di Cirebon menjadi perhatian serius dari Belanda. Sebab, pemberontakan itu mengancam eksistensi Belanda di Cirebon. Hal itu dibuktikan dalam surat yang ditulis Gubernur Jenderal Hindia Belanda Albertus Henricus Wiese kepada Gubenur Pantai Timur Laut Jawa Nicolas Engelhard. Surat itu menyebutkan eksistensi kolonial di Cirebon semakin memburuk.
"Gubernur Jenderal dalam surat tersebut menyampaikan, akan segera dikeluarkan surat perintah agar secepat mungkin mengirimkan pasukan dari Madura yang telah ditempatkan di Ujung Timur Laut Jawa yang terdiri atas satu kompi, di Surabaya satu batalayon, dan dua batalyon di bawah perintah Bupati Madura yang sudah disiagakan di Bangkalan," ujar Nurdin.
Pada 1812, Belanda menangkap Bagus Rangin. Namun perjuangan tetap berlanjut. Hingga akhirnya pada 1818, Belanda memadamkan perjuangan tersebut.
Banyak pihak yang menyebutkan Bagus Rangin dihukum mati setelah Belanda menangkapnya. Tapi masih banyak juga yang menganggap Bagus Rangin menjadi sosok misterius. Sebab, beberapa arsip dan penelitian tak menemukan data mengenai penangkapan Bagus Rangin.
"Tak ada sumber se-zaman yang memberitakan Pemerintah Hindia Belanda menjatuhkan hukuman pada Bagus Rangin," kata Nurdin.
Versi lain menyebutkan Perang Kedondong bergulir selama 100 tahun. Sebab, keturunan para pemimpin pejuang melanjutkan perjuangan tersebut.
Namun, ada juga versi yang mengatakan perjuangan warga Cirebon itu terjadi selama 20 tahun. Yang pasti, kata Nurdin, peperangan yang luput dari catatan sejarah itu merupakan perjuangan besar yang terjadi di Cirebon.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
