Ternyata cemilan kala itu adalah colenak atau dikenal juga dengan tape bakar. Makanan khas Sunda ini terbuat dari tape singkong atau peuyeum.
Sayangnya, colenak dicoret dari menu hidangan yang akan disajikan ke kepala negara saat acara puncak peringatan ke-60 tahun KAA pada 24 April.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Staf para ahli gizi dari Kementrian Sekretaris Negara (Kemensekneg) khawatir tape membuat perut para delegasi negara peserta KAA sakit.
Zsara Zakiah selaku E-Commers Executive Hotel Savoy Homann Bandung mengatakan ahli gizi tidak memberikan izin untuk menyajikan salah satu makanan ciri khas Bandung itu saat melakukan inspeksi beberapa waktu lalu.
"Colenak tidak dihidangkan karena menurut Staf ahli gizi dari Sekneg tape sebagai bahan dasar colenak tidak cocok dikonsumsi pagi-pagi. Mereka khawatir para delegasi nanti sakit perut," ujar Zsara ketika ditemui di loby Hotel Savoy Homann, Senin (6/4/2015).
Mendapati kabar tersebut, Betty Nuraety, 43, selaku generasi ketiga dari pemilik Colenak Murdi Putera mengaku kecewa karena makanan ciri khas Bandung itu tidak akan lagi menjadi bagian dari sejarah KAA. Padahal, selama ini, tidak ada keluhan dari pelanggan yang datang setiap pagi dan menyantap colenak.
"Jelas saya kecewa lah, kapan lagi ada KAA di Bandung. Mungkin bukan saatnya colenak hadir di KAA lagi. Sampai saat ini, belum pernah ada pelanggan yang komplain sakit perut setelah makan colenak, padahal suka ada aja yang makan colenak di sini pagi-pagi. Tapi kita harus menghargai pendapat ahli gizi, karena mereka lebih berpengetahuan," tutur Betty ketika ditemui di warung Colenak Murdi Putera, Jalan Jenderal Ahmad Yani 733, Kota Bandung, Jawa Barat, Senin (6/4/2015).
Dia pun tidak bisa memaksa untuk mengulangi kembali memori 60 tahun silam ketika kakeknya menghadirkan colenak bagi Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, dan para kepala negara Asia Afrika.
"Mungkin bukan saatnya mengulang sejarah itu. Dulu, saya baca juga dari buku, kakek diminta untuk menghidangkan colenak langsung oleh Bung Karno (Soekarno). Tapi mau gimana lagi, kita kan enggak mau maksa karena itu kewenangan mereka," kata Betty.
Namun kecewanya agak terobati karena masih ada makanan tradisional Sunda lainnya yang dihidangkan di KAA nanti.
"Yang penting ada makanan tradisional Sunda di sana, meskipun saya kecewa jika colenak tidak hadir di sana. Kalau sampai tidak ada makanan Sunda saya lebih kecewa lagi," ujar dia.
Colenak ini mulai diperkenalkan pada 1930 oleh seorang putra daerah asli Bandung bernama Murdi Putra. Selama KAA, colenak Murdi Putra selalu hadir. Salah satunya di malam resepsi 18 April 1955 di Gedung Negara Pakuan dan di acara perpisahan 24 April pada tahun yang sama di Hotel Savoy Homann.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(BOB)
