Dedi berencana memenuhi undangan itu pada Jumat 15 Juli 2016. Salah satu agenda kedatangannya yaitu menonton wayang golek yang digelar Yayasan Simpay.
"Ini undangan dalam momentum Idul Fitri dan silaturahmi," kata Dedi usai menghadiri acara halal bi halal di Gedung Sate Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa (12/7/2016).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Bupati yang identik dengan pakaian khas putih-putih itu mengaku tak gentar dengan ancaman tersebut. Sebab, kedatangannya ke Ciamis tak lain untuk memenuhi undangan masyarakat.
Meski demikian, Dedi mengaku menyerahkan sepenuhnya dampak ancaman itu ke kepolisian. Bila polisi memintanya tak hadir hingga suasana kondusif, Dedi mengaku akan mematuhinya.
"Saya taat pada polisi kalau dilarang, ya enggak akan datang," ungkap Dedi.
Dedi mengaku ogah menanggapi ancaman tersebut. Ia juga menilai ancaman itu tak jelas. Pelaku yang melontarkan ancaman, kata Dedi, merupakan oknum yang mengaku sebagai warga Ciamis.
"Nyatanya saya mendapat jaminan dari warga setempat dan panitia bahwa saya aman saat menghadiri acara itu," lanjut Dedi.
Ancaman itu muncul di sosial media dengan akun Raden Syair Langit. Si empunya akun meminta Dedi tak menghadiri acara di Yayasan Simpay.
Alasannya, tulis Raden Syair Langit pada 9 Juli 2016, imej Bupati Dedi yang bertentangan dengan aqidah. Selama memimpin Purwakarta, Dedi menghiasi kota dengan patung dan sesajen.
"Monggo saya tunggu anda jika tetap nekat datang ke sini (Ciamis). Jika selama ini anda paling jawara, saya ajak anda satu lawan satu debat mulut atau tangan dengan saya," demikian petikan ancaman yang ditulis Raden Syair Langit di akun sosial medianya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
