Hendi, petani cabai di Kampung Gandok, Sunten Jaya, mengaku banyak rekan-rekannya yang beralih ke tanaman lain. Sebab, hasil panen dalam dua tahun terakhir semakin berkurang.
Hendi mengatakan setiap petani cabai di Sunten Jaya memiliki lahan seluas 1 hektare. Biasanya mereka bisa memproduksi 10 hingga 30 ton cabai. Tapi sekarang mereka hanya bisa memproduksi 1,5 hingga 3 ton cabai rawit merah.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Virus kuning, ujar Hendi, menjadi penyebab gagal panen. Tanaman cabai membusuk hingga akhirnya mati.
"Virus muncul saat cuaca ekstrem dan kondisi tanah tak mendukung," lanjut Hendi.
Hendi mengaku menjual cabai saat ini dengan harga Rp80 ribu per Kg ke tengkulak. Meski naik dua kali lipat dari harga biasa, petani harus menanggung biaya produksi.
Bukan hanya itu, Yayan, petani di Lembang, mengaku kondisi akses jalan menjadi penyebab biaya produksi tinggi. Kerusakan jalan terjadi di wilayah Sunten Jaya yang kerap ia lewati untuk membawa sayuran dan cabai ke pasar.
Yayan berharap pemerintah membantu kebutuhan petani untuk memproduksi cabai. Misalnya pupuk dan bibit.
Di beberapa pasar di Bandung, harga cabai cabai rawit merah naik hingga Rp120 ribu per Kg. Sebulan lalu, harga cabai rawit merah hanya Rp80 ribu per Kg.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
