Salah satu loket parkir di kawasan Universitas Indonesia disegel oleh mahasiswa. Foto: Medcom.id/Octavianus Dwi Sutrisno
Salah satu loket parkir di kawasan Universitas Indonesia disegel oleh mahasiswa. Foto: Medcom.id/Octavianus Dwi Sutrisno (Octavianus Dwi Sutrisno)

Mahasiswa Segel Loket Parkir di Kawasan UI

penyegelan
Octavianus Dwi Sutrisno • 06 Juli 2019 20:58
Depok: Kebijakan pengelola Universitas Indonesia (UI) yang menerapkan sistem berbayar tehadap setiap kendaraan roda dua yang masuk maupun keluar kampus, menuai penolakan. Mahasiswa pun menyegel salah satu loket parkir di kawasan UI.
 
Aksi penyelegan salah satu loket parkir itu dilakukan oleh mahasiswa dari Ikatan Keluarga Mahasiswa (IKM) Politeknik Negeri Jakarta (PNJ), atau dikenal Poltek UI pada Jumat, 5 Juli 2019. Penyegelan dilakukan dengan cara melilitkan rantai dan memasang spanduk bertuliskan "Segel Komersialisasi".
 
Menurut mereka, pemberlakuan sistem berbayar tersebut menimbulkan keresahan bagi warga yang biasa menggunakan akses jalan kampus UI. "Dari depan sampai belakang dibuat loket parkir, kami menganggap ini adalah bentuk komersialisasi. Kasihan warga yang biasa menggunakan jalur dalam kampus," Ucap Iqbal Fauzan selaku Ketua BEM PNJ, Sabtu, 6 Juli 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Loket parkir sebelumnya sudah dibuat tepat di akses keluar dan masuk Kampus UI. Pihak kampus juga merencanakan uji coba sistem berbayar kepada setiap kendaraan yang keluar masuk pada tanggal 15-31 Juli 2019. 
 
Rencananya, tarif parkir juga ditentukan untuk mobil Rp4.000, sedangkan motor Rp2.000 untuk satu jam pertama. Kemudian tarif akan bertambah untuk jam berikutnya Rp1.000 dan maksimal Rp4.000.
 
Padahal, selama ini masyarakat biasa menggunakan area tersebut sebagai jalan alternatif menuju Stasiun Pondok Cina dan beberapa ruas jalan besar seperti Jalan Lenteng Agung, Margonda, Beji, dan Kota Depok. 
 
Menanggapi hal tersebut, Iqbal dan rekan mahasiswa UI lainnya mengaku tidak setuju karena tarif tersebut muncul tanpa pertimbangan dan aspirasi dari civitas akademika. "Kampus yang harusnya menjadi wajah peradaban bangsa dan berorientasi dalam nilai pendidikan dan kehidupan berubah menjadi nilai-nilai materil," seru Iqbal.
 
Selain itu, penerapan tersebut juga sangat berimbas terhadap mahasiswa di Politeknik Negeri Jakarta. Pasalnya, selama ini mereka tidak memperoleh fasilitas bis dan sepeda kuning seperti mahasiswa UI lainnya.
 
"Jadi kami yang kuliah di PNJ hanya kena imbas tarif parkirnya saja," tegasnya.
 
Sementara itu, beberapa warga terutama yang tinggal di belakang Kampus UI mengaku risau dengan kebijakan sistem berbayar ketika kendaraan mereka memasuki area kampus. Aria, salah seorang warga, menuturkan, setiap hari dirinya terbiasa menggunakan jalan lingkar dalam UI menuju tempat kerjanya. Selain praktis, jalur tersebut juga digunakan untuk menghindari kemacetan.
 
"Kalau lewat Margonda jauh lagi, jadi saya biasa lewat situ dari rumah, kan dekat. Sekarang kalau harus bayar kan lumayan juga," ujar Aria.
 
Sementara itu, Mira Karina Fauzia warga Jalan Kelapa Dua Raya, menyatakan keberatan bila sistem.tersebut diterapkan. Masyarakat sangat terbantu dengan Jalan Kampus UI terutama bagi mereka yang menggunakan KRL.
 
"Saya tiap hari, pakai KRL Pondok Cina, lokasinya kan di dalam kampus UI. Sekarang kalau pakai ojek online pasti diantarnya hanya sampai depan gerbang, kita masuk jalan kaki ke dalam jauh," keluh Mira.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(DMR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif