Pengunjung di Observatorium Bosscha membeludak. (Metrotvnews.com/Roni Kurniawan)
Pengunjung di Observatorium Bosscha membeludak. (Metrotvnews.com/Roni Kurniawan) (Roni Kurniawan)

Bosscha Senang Diserbu Ribuan Orang

gerhana matahari total
Roni Kurniawan • 09 Maret 2016 14:23
medcom.id, Bandung: Pengelola Observatorium Bosscha cukup kewalahan menyambut warga yang menyaksikan proses gerhana matahari. Bahkan Bosscha menambah 300 unit dari semula 100 unit kacamata pengamat Gerhana Matahari.
 
Ini terjadi karena lebih dari 5.000 warga meriung ke tempat penelitian astronom di kawasan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Rabu 9 Maret 2016.
 
"Pengunjung yang datang banyak sekali, lebih dari 5.000 orang. Dan tidak semua pengunjung memiliki kacamata matahari, sudah ada 100 kacamata yang dibagikan, tetapi masih kurang sehingga kita menambah kembali 300 kacamata sehingga total 400," ujar Evan Irawan, peneliti Observatorium Bosscha.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Diakui Evan, pihaknya bangga bisa berbagi pengalaman bersama warga untuk melakukan pengamatan Gerhana Matahari secara langsung. Terlebih hal tersebut baru pertama kali dilakukan Bosscha. Pasalnya, saat Gerhana Matahari Total pada 1983 mayoritas warga tidak bisa menyaksikan secara langsung karena larangan dari pemerintah.
 
"Harapannya sih agar masyarakat dapat menikmati fenomena gerhana matahari total. Sharing pengalaman, bahwa ini momen yang luar biasa, sayang kalau hanya astronom saja yang mengetahuinya," paparnya.
 
Selain itu, pihak Bosscha pun menyediakan tiga teleskop berdiameter 20 sentimeter yang diletakkan dekat teleskop utama untuk digunakan oleh warga secara bergantian. Bahkan, warga pun harus rela mengantre panjang untuk bisa mendapatkan kesempatan melihat fenomena alam tersebut meakipun hanya sebentar.
 
"Teleskop kita hanya sediakan tiga, warga gunakan itu bergantian juga dan tidak telalu lama. Bisa dilihat kan tadi, antreannya panjang untuk bisa gunakan teleskop itu," katanya.
 
Sementara itu, area Bandung Raya hanya mampu melihat proses gerhana matari parsial atau sebagian sebesar 88,8 persen. Hal itu, lanjut Evan, karena faktor kondisi letak wilayah di Indonesia mempunyai perbedaan yang cukup signifikan yang berpengaruh pada perputaran gerhana matahari total.
 
"Di Bandung proses gerhana matahari sebesar 88,8 persen karena faktor letak wilayah yang berbeda sehingga terjadi secara parsial," tandasnya.
 
Menurutnya, gerhana matahari total akan kembali terjadi di Indonesia dalam waktu dekat yakni pada tahun 2023 nanti. Namun, fonemena alam tersebut hanya akan melintasi sebagian wilayah di tanah air. "Melewati Biak dan Kota Tidore," tandasnya.
 

(SAN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif