Delapan nama tersebut yakni Iwan Sulandjana, Dede Yusuf, dan Herman dari Demokrat, serta Uu Ruzhanul Ulum dan Asep Maoshul Ahmad Effendy (PPP), Desi Ratnasari (PAN), Mulyadi dan Burhanudin (Gerindra).
"Sementara usulan ini, kita akan hitung time table. Nama-nama ini masih cair," kata Ketua DPD Gerindra Jabar Mulyadi saat dihubungi awak media, Kamis 12 Oktober 2017.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Mulyadi mengatakan, poros baru mengutamakan kader setiap partai untuk maju sebagai kandidat. Hal itu yang menjadi pertimbangan poros baru tidak memasukkan nama Demiz, sapaan Deddy, karena hingga kini belum resmi menjadi kader Gerindra.
"Jadi kami usulkan masing-masing partai yang disebutkan. Parameter yang dibuat nanti tidak menutup kemungkinan nama yang sudah muncul di permukaan ternyata masuk juga," tutur dia.
Selain itu, poros baru tersebut pun akan melakukan survei terhadap nama-nama kandidat itu untuk menguji elektabilitas dan popularitas. Poros baru pun tengah mencari lembaga survei yang kredibel agar hasilnya bisa memenuhi untuk maju ke Pilgub Jabar.
"Kami sepakat menunjuk salah satu lembaga survei untuk mengukur para kandidat yang diusulkan masing-masing survei," tandasnya.
Tak ada nama Demiz semakin menguatkan jika Gerindra akan lepas dengan PKS yang sebelumnya telah mencetuskan duet dengan Ahmad Syaikhu. Terlebih dalam waktu dekat, poros baru akan deklarasi sebagai kekuatan untuk memenangkan Pilgub Jabar.
"Mudah-mudahan kandidat kami jadi kuda hitam. Kami tidak ingin terjebak kalau yang diusung elektabilitas saja. Tapi menyejahterakan masyarakat," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SUR)
