"Profesionalisme bisa jadi batasan terbaik hubungan militer dan sipil," kata Bupati Batang Yoyok Riyo Sudibyo di hadapan ratusan siswa Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SESKOAD) di Bandung, Jawa Barat, Jumat (13/5/2016).
Yoyok mengatakan, sikap profesional hubungan militer dan sipil bermakna, militer menyadari perannya sebagai penjaga kedaulatan NKRI. Sedangkan masyarakat sipil yang cerdas akan profesional menjalani peran sebagai warga negara yang baik.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Alumnus Akademi Militer 1994 itu mengajak siswa SESKOAD merenungkan perjalanan 18 tahun reformasi yang menandai reposisi peran militer. Hampir dua dasawarsa relasi antara militer dan sipil terbangun baik. Keikutsertaan purnawirawan TNI dalam Pemilu membuktikan bahwa militer bersedia tunduk pada supremasi sipil.
“Anda tentu ingat, 13 Mei 18 tahun silam, Jakarta rusuh. Tapi, peristiwa duka itu sekaligus jadi momentum krusial reposisi peran militer. Momentum ketika TNI ikut membuka pintu demokrasi di Indonesia dan memberikan dukungan terhadap supremasi sipil,” lanjut Yoyok.
Dia berkata lagi,“Pengalaman saya, sipil juga bisa bersikap lebih militeristik dari militer. Tapi, pengalaman saya juga membuktikan militer bisa menjadi agen perubahan, inisiator pemerintahan yang bersih dan penopang agenda-agenda demokrasi. Kuncinya, profesionalisme. Ketika seorang tentara memilih menjadi birokrat sipil, ya jadi sipil yang profesional, disiplin, dan bersih.”
Di akhir pidatonya, Yoyok mengajak siswa SESKOAD menjadi kader terbaik untuk demokrasi. "Tentara bukanlah tukang gusur, tapi mitra membangun, sahabat demokrasi,” kata mantan Kasubdit Pengerahan dan Penggalangan Massa se-Jakarta Raya Badan Intelijen Negara itu.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(ICH)
