Alun-Alun Kejaksaan Kota Cirebon, Jawa Barat. Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Rofahan
Alun-Alun Kejaksaan Kota Cirebon, Jawa Barat. Foto: Metrotvnews.com/Ahmad Rofahan (Sobih AW Adnan)

Sebelum Soekarno, Proklamasi Kemerdekaan Sudah Dikumandangkan di Cirebon

hari pahlawan
Sobih AW Adnan • 07 November 2015 17:56
medcom.id, Cirebon: Kaisar Hirohito mengumumkan pernyataan takluknya Pemerintah Jepang terhadap Sekutu pada 15 Agustus 1945. Siaran radio yang disiarkan Gyokuon-hōsō itu dilakukan sebagai dampak dijatuhkannya bom atom oleh tentara Amerika Serikat pada 6 dan 9 Agustus 1945 di Hirosima dan Nagasaki. Kontan, informasi pun langsung menyebar dan mengundang reaksi di beberapa tempat, termasuk di Kota Cirebon, Jawa Barat.
 
Budayawan sekaligus sejarawan Cirebon, Nurdin M. Noer, mengatakan sebagai reaksi dari kabar tersebut, Sutan Syahrir, yang nantinya dipercaya sebagai Perdana Menteri Indonesia, lekas mengirimkan telegram kepada Dokter Soedarsono yang sedang berada di Cirebon. Dokter Soedarsono adalah salah satu pejuang binaan Syahrir. Telegram tersebut memuat perintah pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tepat pada 15 Agustus 1945.
 
“Saat itu juga Dokter Soedarsono membacakan teks proklamasi versi Syahrir. Namun mengenai tempat pembacaan naskah, sebagian besar bukti menunjukkan Alun-Alun Kejaksaan (Kota Cirebon), sementara versi lain dibacakan di Lapangan Ciledug (Kabupaten Cirebon),” kata Nurdin kepada Metrotvnews.com, Sabtu (7/11/2015).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Nurdin, saat membacakan naskah proklamasi, Dokter Soedarsono didampingi perwakilan bangsawan Keraton Cirebon, Patih Bakri. Sayangnya, peristiwa penting itu tidak disambut banyak orang, termasuk warga Cirebon sendiri.
 
“Hanya sekitar 50 orang (yang hadir). Soal perjuangan ini kiranya tercatat juga dalam arsip daerah berjudul Siliwangi dari Masa ke Masa,” kata Nurdin.
 
Nurdin mengakui, peristiwa besar yang merupakan bagian dari perjalanan sejarah kemerdekaan Indonesia ini masih bersifat misteri. Hal ini, menurut dia, karena kurangnya bukti catatan yang terselamatkan.
 
“Selain itu, karena pamor Syahrir kalah dengan Presiden Soekarno yang baru membacakan proklamasi dua hari kemudian (17 Agustus 1945). Kalau saksi sejarah, kebetulan diperkuat almarhum ayah saya sendiri, Hasyim Mohammad Noer. Beliau turut menyaksikan pembacaan proklamasi itu (versi Syahrir),” ujar Nurdin.
 
Filolog asal Cirebon, Raden Safari S. Hasyim, mengatakan senyapnya gaung proklamasi yang dibacakan ayahanda Menteri Pertahanan era Megawati Soekarnoputri, Juwono Sudarsono, ini juga karena faktor politik. Dia memperkirakan peristiwa itu lahir atas ketidakberdayaan Syahrir dalam membujuk Soekarno untuk segera membacakan proklamasi kemerdekaan atas desakan kaum muda pergerakan.
 
“Saya kira karena kental unsur politik juga," kata pria yang akrab disapa Opan ini.
 
Dokter Soedarsono merupakan pendiri Rumah Sakit Orange (Kini RSUD Gunungjati Cirebon). Dokter Soedarsono pada akhirnya menjabat sebagai Menteri Dalam Negeri pada Kabinet Syahrir II.
 
Menurut Opan, dipilihnya Kota Cirebon sebagai tempat pembacaan proklamasi ini karena banyaknya peristiwa perjuangan rakyat yang juga terjadi selama jelang kemerdekaan. “Soal ini bisa diperiksa juga di arsip daerah berjudul Sejarah Berdirinya Kota Cirebon," kata Opan.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(UWA)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif