Buni Yani di ruang sidang PN Bandung sebagai terdakwa kasus pencemaran nama baik, MTVN - Octavianus
Buni Yani di ruang sidang PN Bandung sebagai terdakwa kasus pencemaran nama baik, MTVN - Octavianus (Octavianus Dwi Sutrisno)

Buni Yani Jalani Sidang Perdana

pencemaran nama baik
Octavianus Dwi Sutrisno • 13 Juni 2017 11:00
medcom.id, Bandung: Buni Yani menjalani sidang perdana di Pengadilan Negeri Kota Bandung, Jawa Barat, Selasa 13 Juni 2017. Buni Yani adalah terdakwa kasus pencemaran nama baik setelah mengunggah video pidato mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.
 
Sidang dimulai pukul 09.00 WIB. "Sidang, dengan agenda dakwaan dibuka," kata Ketua Majelis Hakim M Sapto di ruang sidang 1 Gedung PN Bandung, Jalan LRE Martadinata, Kota Bandung.
 
Baca: Besok, Seribu Orang Kawal Sidang Buni Yani di Bandung

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pantauan Metrotvnews.com, area pengunjung di ruang sidang sudah penuh. Mereka menyaksikan sidang sekaligus memberikan dukungan moril pada Buni Yani yang didampingi 29 kuasa hukum.
 
Buni Yani Jalani Sidang Perdana
(Puluhan kuasa hukum mendampingi Buni Yani menjalani sidang pedana di PN Bandung, MTVN - Octavianus)
 
Isi dakwaan seputar pengunggahan potongan video Ahok saat berbincang dengan warga di Pulau Pramuka, Kepulauan Seribu, beberapa waktu lalu. Dari rekaman video itu, Ahok berbicara dengan mengutip Alquran Surat Al Maidah ayat 51. Namun, di video yang diunggah di media sosial diduga ada beberapa kata yang hilang dan tak sesuai dengan rekaman aslinya.
 
"Dalam potongan video tersebut, ada penghilangan kata pakai dan postingan yang menimbulkan kebencian," ungkap Jaksa Penuntut Umum Andi M Taupik.
 
Bukan hanya dalam ruangan, ratusan orang pun berkumpul di luar pengadilan. Mereka menunggu hasil sidang perdana.
 
Diduga, video yang diungah Buni Yani itu mengandung isu SARA sehingga berujung pada ujaran kebencian. Buni Yani disangkakan dengan Pasal 28 ayat 2 Undang Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Ancaman hukumannya maksimal enam tahun penjara atau denda kurang lebih Rp1 miliar.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif