Aryanto beranggapan ketidakseriusan pemerintah Indonesia dalam merespon kreasi dan penemuan-penemuan tersebut menjadikan banyaknya generasi muda memilih hijrah dan membantu kemajuan di negara lain.
“Itulah yang menjadi persoalan selama ini. Pemerintah kurang merespon kreasi dan penemuan mereka (generasi muda). Jika tiba-tiba merespon pun seringnya karena kepentingan proyek, setelah selesai tak ada pengembangan lagi,” kata Aryanto saat ditemui Metrotvnews.com di kediamannya, Sabtu (8/8/2015).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Aryanto menceritakan pengalamannya yang pernah diminta untuk terlibat dalam pengembangan teknologi biodisel digagas oleh pemerintahan daerah sebuah kabupaten di Jawa Tengah. Saat itu, menurut Aryanto, dari total biaya pengembangan yang dianggarkan Rp55 miliar, dia hanya menerima Rp1 miliar.
“Waktu itu 2006, setelah proyeknya selesai lantas tak ada lagi pengembangan. Bahkan proyek itu akhirnya menyeret beberapa oknum ke penjara terkait penyalahgunaan anggaran, termasuk waktu saya pun tersita banyak dalam pemeriksaan sebagai saksi,” keluh Aryanto.
Di saat yang bersamaan, lanjut Aryanto, inovasi-inovasi generasi muda justru menarik pihak negara lain. Tak heran banyak generasi muda memilih berkarya untuk negara lain karena keuntungan yang dijanjikan.
“Dulu, pada 2001 pemerintah Kanada meminta saya turut membantu mengembangkan teknologi biodisel di sana, akan tetapi saya timbang-timbang jauh lebih bermanfaat untuk hidup dan mati di Indonesia,” tegasnya.
Aryanto yang sejak muda menggeluti riset dan eksperimen ini telah menemukan sebanyak 15 produk inovasi di bidang ilmu kimia. Di antaranya aftur bahan bakar pesawat terbang untuk air modeling, biodisel, cairan penghemat BBM, Biokerosene (alternatif untuk minyak tanah), cairan anti rontok untuk buah dan bunga, serta optimalisasi hidrogen air untuk bahan bakar mobil.
Produk terbaru yang ia ciptakan adalah Annaro Fire Stop, pemadam api organik yang dibuat dari eksrak kulit singkong. "Karena bahan bakunya mudah didapat, maka produk ini saya jual hanya Rp60 ribu per 400 gram," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
