Bukan tongsis biasa yang Asep gunakan. Tongsis milik Asep terbuat dari tangkai payung. Ia memodifikasi bagian ujungnya dengan melingkarkan kawat. Kawat itu berfungsi sebagai penggantung cangkir plastik. Dengan alat itulah, Asep mengantarkan barang dagangannya kepada pembeli, bisa berupa segelas kopi, rokok, atau uang kembalian.
"Oh itu tongsis. Kreatif juga ya," kata seorang pedagang yang menilai cara Asep berjualan, Minggu (22/2/2015).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Panjang tongsis milik Asep sekitar satu meter. Tongsis itu bisa melewati pagar yang membatasi wilayah stasiun dengan pedestrian sekeliling stasiun.
Entah sejak kapan Asep mengandalkan tongsis untuk melayani pembelinya. Namun tampaknya, alat itu mempermudahkan dirinya mengais rezeki di sekitar stasiun.
Keberadaan pagar pembatas stasiun itu merupakan tanda zeno toleran untuk pedagang kaki lima. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) menetapkan zeno toleran sejak penataan kawasan dengan mengaktifkan jembatan penyeberangan dan pembuatan pedestrian sekeliling stasiun.
Guna mencegah para PKL tetap berjualan, sebagian pagar diberi vertical garden, persis di tikungan antara Jalan Mayor Oking menuju Kapten Muslihat. Tetapi belum semua pagar pedestrian yang diberikan pembatas tersebut sehingga beberapa PKL masih mangkal di sekeliling stasiun.
Bahkan para PKL terkesan kucing-kucingan dengan pihak Satpol PP untuk tetap bisa berjualan tanpa kena penertiban. Mereka muncul sore dan pagi hari. Tidak hanya itu, mereka mulai bergeser berjualan di jembatan penyebrangan orang, atau di halte depan Lapas Paledang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
