Ilustrasi - Medcom.id.
Ilustrasi - Medcom.id. ()

Satgas TPPO Ungkap Dugaan Penganiayaan Pekerja Migran Tasini

trafficking
07 Juli 2019 12:55
Majalengka: Satgas tindak pidana perdagangan orang (TPPO) Direktorat Tindak Pidana Umum (Dittipidum) Bareskrim Polri mengungkap, kasus dugaan penganiayaan terhadap pekerja migran Indonesia (PMI) bernama Tasini di Arab Saudi. Kasus dugaan penganiayaan itu dibongkar berdasarkan informasi dari Kementerian Ketenagakerjaan, soal adanya pemulangan Tasini pada 3 Juli 2019. 
 
"Korban Tasini dipulangkan dari Arab Saudi pada Kamis, 4 Juli 2019 tanpa melalui KBRI ke Indonesia dengan kondisi luka-luka diduga akibat penganiayaan saat bekerja di Arab Saudi," kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Nico Afinta, Minggu, 7 Juli 2019.
 
Nico melanjutkan, informasi yang diterima bahwa korban dipulangkan dengan kondisi luka-luka. Saat ini korban tengah dirawat di RSUD Majalengka, Jawa Barat.  

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Saat ini korban belum bisa diambil keterangan karena masih dalam kondisi sakit dan memprihatinkan," ucap Nico. 
 
Nico menuturkan, Tasini direkrut oleh tersangka, H Mamun, di daerah Majalengka, pada Mei 2018 untuk menjadi pembantu rumah tangga di Arab Saudi. Kepergian Tasini sebagai PMI dibantu agen bernama Faisal dan Andi. 
 
"Korban dilakukan medical check up dan diberikan uang fee oleh Mamun sebesar Rp6 juta," jelas dia.
 
Dia menjelaskan, Faisal dan Andi membantu membuatkan visa Tasini. Setelah visa korban terbit, Mamun kemudian menyerahkan Tasini ke Faisal dan Andi untuk diberangkatkan ke Arab Saudi. 
 
Nico mengungkap, tim satgas TPPO menangkap pelaku Mamun yang merupakan perekrut korban di Majalengka, Sabtu, 6 Juli 2019. Kemudian, Faisal ditangkap di Cibitung, Jawa Barat pada Minggu, 7 Juli 2019.
 
"Faisal perannya sebagai agen, pemodal, mengurus visa, tiket dan mengirim korban ke Arab Saudi," ucap dia.
 
Dia melanjutkan, sejumlah barang bukti yakni paspor, visa, dan satu boarding pass tujuan Jeddah tertanggal 3 Juli 2019, dan satu boarding pass tujuan dari Jedaah ke Jakarta, 3 Juli 2019. 
 
"Atas perbuatannya, para tersangka dijerat Pasal 4 UU Nomor 21/2007 tentang pemberantasan tindak pidana perdagangan orang atau Pasal 81, Pasal 86 UU Nomor 18/2017 tentang perlindungan pekerja migran Indonesia," tandasnya.

 

(LDS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif