Metrotvnews.com mencoba memasuki area tersebut pada Jumat 25 Februari 2016. Tampak beberapa pria duduk santai di pinggir jalan.
"Om, om, mangga. Ada yang bisa dibantu," kata seorang pria berjaket kulit hitam menghampiri.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Tiba-tiba, pria itu berbisik. Ia menawarkan 'sesuatu'.
"Mangga, Om. Lihat-lihat dulu ke dalam. Siapa tahu ada yang cocok," lanjutnya.
Di lain tempat, beberapa perempuan duduk di sebuah halaman. Perempuan-perempuan itu mengenakan celana pendek dan tanktop.
"Aa, sini atuh. Mampir dulu, Aa," celoteh seorang perempuan berambut panjang.
"Aa, mau yang gimana. Sok ada di dalem, Aa," tanya perempuan lain.
'Di dalem'. Dua kata itu merujuk pada sesuatu yang ditawarkan. Perempuan itu kemudian menawarkan dirinya sebagai 'teman kencan'.
"Sama saya sekali main Rp200 ribu," tawar perempuan itu berbicara dengan nada pelan.
Perempuan itu mengaku teman-temannya menawarkan tarif yang bervariasi. Ada yang dihargai Rp150 ribu, ada pula yang mencapai Rp300 ribu.
Pada 2007, Wali Kota Bandung Dada Rosada menutup kegiatan prostitusi di Saritem. Namun, bisnis prostitusi masih bergeliat.
Lalu pada Mei 2015, Pemerintah Kota yang dipimpin Ridwan Kamil kembali menutup kegiatan prostitusi di Saritem. Lagi-lagi, bisnis itu masih terjadi.
Wali Kota Bandung Ridwan Kamil atau Emil mengakui mendapat informasi soal geliat prostitusi di kawasan Saritem. Namun ia menegaskan kawasan itu bukan lokalisasi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
