"Hampir dua bulan ini sudah tak ada hujan. Pasokan air dari sungai juga mengering," kata Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Babakan Jati, Karmita saat dikonfirmasi, Senin, 8 Juli 2019.
Karmita menyebut luasan lahan sawah yang mengalami kekeringan sekitar 50 hektare. Para petani pun mengalami kerugian secara material mencapai ratusan juta rupiah.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
"Tanaman padi yang mati itu kan sebentar lagi masuk panen. Usianya ada yang dua bulan dan tiga bulan," tuturnya.
Karmita menuturkan areal sawah di wilayahnya dikategorikan tadah hujan. Biasanya jika masuk kemarau, para petani mengandalkan pasokan air dari aliran sungai.
"Tapi air di sungai juga sama, sudah kering. Sudah tak ada lagi sumber air yang bisa diandalkan," jelas Karmita.
Karmita menuturkan kemarau tahun ini bisa dikatakan lebih parah jika dibanding tahun sebelumnya. Para petani sudah berupaya maksimal agar tanaman padi mereka bisa diselamatkan dari ancaman kekeringan.
"Tadinya kami upayakan menyedot air menggunakan pompa. Tapi air di sungai juga sudah tidak ada. Percuma kalau disedot juga," imbuh Karmita.
Gagal panennya tanaman padi di wilayah itu diperparah juga dengan mulai mengeringnya sumur di rumah-rumah warga. Warga pun mulai kelimpungan mencari sumber air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
"Kami harus mencari sumber mata air yang jaraknya lumayan jauh," pungkas Karmita.
Berdasarkan data Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, kemarau tahun ini berdampak terhadap tanaman padi yang mengalami kekeringan berat di lahan seluas 71 hektare, kekeringan sedang berada di lahan seluas 242 hektare, kekeringan ringan berada di 299 hektare, dan lahan yang mengalami puso atau gagal panen seluas 12 hektare.
Mayoritas lahan yang terdampak kekeringan merupakan sawah tadah hujan. Luas lahan sawah irigasi maupun tadah hujan di Kabupaten Cianjur mencapai 66.934 hektare. Sekitar 20 hektare di antaranya merupakan sawah tadah hujan.
"Kemungkinan di lahan sawah tadah hujan bakal beralih menanam palawija," kata Kepala Dinas Pertanian, Perkebunan, Pangan, dan Hortikultura Kabupaten Cianjur, Mamad Nano.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(DEN)
