Kain Tenun 'Daun Mangga' Bernilai Rp1 Juta
Ahmad Karomi, pemilik Sanggar Omah Petruk di Jepara, menyiapkan larutan dari kulit kayu mahoni untuk mewarnai kain tenun Troso di Jepara, Medcom.id - Rhobi Shani
Jepara: Harga kain tenun Troso dengan pewarna alami ternyata lebih mahal ketimbang produk yang sama dengan menggunakan pewarna sintetis. Padahal, bahan untuk mendapatkan zat pewarna itu sangat sederhana.

Ahmad Karomi, pemilik Sanggar Omah Petruk di Jepara, Jawa Tengah, membuat dan menjual kain tenun dengan pewarna alami. Ia menjual satu lembar kain dengan pewarna alami yaitu Rp1 juta. 

Sedangkan kain tenun dengan pewarna sintetis dijual dengan harga Rp200 ribu. Sementara ukurannya sama yaitu 110 x 220 sentimeter.


"Bagi yang tidak tahu, pasti menilainya harga itu sangat mahal. Tapi, rata-rata yang membeli kain tenun dengan pewarna alami adalah pecinta kain tenun yang paham dengan kualitasnya," ungkap Karomi di sela-sela sanggarnya di Kecamatan Pecangaan, Jepara.


(Ahmad Karomi (kanan), pemilik Sanggar Omah Petruk, menunjukkan kain tenun Troso yang diwarnai dengan zat alami, Jepara, Medcom.id - Rhobi Shani)

Di sanggar itu, Karomi dan karyawannya membuat kain tenun dengan pewarna alami. Ia memanfaatkan berbagai bahan sederhana untuk mewarnai kain.

Seperti kulit kayu mahoni, daun indigofera, dan daun mangga. Untuk kulit kayu mahoni, ia mendapatkannya di tempat usaha mebel. Sedangkan daun mangga, ia mendapatkannya dari pohon tetangga. Sedangkan daun indigofera, ia menemukannya di pohon di pinggir Pantai Semat, Kecamatan Tahunan.

"Kulit kayu mahoni menghasilkan ekstrak berwarna merah. Kami juga biasa menggunakan daun mangga yang menghasilkan warna kuning," kata Karomi di sela-sela ia tengah bersiap mewarnai kain tenun.

Lalu bagaimana bisa mahal harga jualnya? 
Pria berusia 29 tahun itu mengaku pewarnaan dengan zat alami lebih ribet dan lama. Bila menggunakan pewarna sintetis, prosesnya hanya cukup setengah jam. Kainnya pun cukup satu kali dicelupkan di dalam larutan pewarna.

"Kalau pewarna alami harus berulang-ulang dicelupkan, bisa sampai enam kali dan membutuhkan waktu sekitar satu minggu," kata Karomi.


(Kain tenun Troso khas Jepara tengah dijemur setelah mendapatkan pewarnaan dengan zat alami, Medcom.id - Rhobi Shani)

Bukannya tanpa alasan Karomi menggunakan zat alami. Kepedulian pada lingkungan yang membuatnya memanfaatkan zat tersebut.

Karomi mengatakan limbah industri dapat merusak lingkungan, terutama sungai. Sumur warga pun berpotensi tercemar. Sedangkan zat pewarna alami, lanjutnya, lebih ramah lingkungan. 




(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id