Radiman, seorang perajin batu di sentra perajin bata di Desa Gulang Kecamatan Mejobo Kabupaten Kudus, mengungkapkan, saat ini permintaan bata tinggi. Meski begitu, harga bata saat musim kemarau lebih murah jika dibanding dengan musim penghujan.
"Kalau kemarau seperti sekarang produksinya gampang tapi harganya murah," kata Radiman di sela-sela kesibukannya membuat bata, Jumat, 3 Agustus 2018.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Bata yang selesai dicetak bentuk persegi panjang hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk pengeringan. Sedangkan saat musim hujan, pengeringan bisa sampai seminggu.
"Kalau saat ini, musim kemarau, harga jualnya bisa sampai Rp650 ribu seribu bata dari perajin. Sedangkan saat musim hujan paling murah seribu bata bisa mencapai Rp750 ribu," kata Radiman.
Sudadi, perajin bata lainnya menambahkan, penurunan harga dibanding saat musim hujan masih diimbangi dengan tingginya produksi di musim kemarau.
Bata hasil buatan para perajin itu biasanya merambah pasar Kudus dan sekitarnya. Tidak jarang, bata buatan mereka juga harus dikirim sampai ke Semarang.
"Tanah untuk membuat bata beli dari Jepara. Tanah satu truk Rp300 ribu. Lalu untuk membakar 10 ribu bata butuh kayu bakar satu truk, harga (produksi) Rp1,1 juta," pungkas Sudadi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SUR)
