"Target ekspor mebel tahun depan (2018) USD2 miliar (Rp27 triliun), supaya di 2019 kita bisa (capai) USD2,5 miliar," ungkap Dirjen Industri Kecil Menengah (IKM) Kementerian Perindustrian Gati Wibawaningsih di Kota Solo, Senin, 20 November 2017.
Target tersebut bukan hal yang mudah jika semua pihak tidak bekerja keras. Data Kemenperin yang menunjukkan nilai ekspor mebel sempat menurun pada tahun 2016 dibandingkan tahun 2015, mulai ciamik.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Tercatat nilai ekspor mebel tahun 2015 mencapai USD1,21 miliar (Rp16,7 triliun). "Di tahun 2016 turun menjadi USD 1,04 miliar (Rp14,07 triliun)," terang Gati.

Perajin membuat kerajinan lemari bergaya minimalis di salah satu rumah produksi di Dlingo, Bantul, DI Yogyakarta. Foto: Antara/Aditya Pradana Putra
Pasar ekspor Indonesia masih tertinggal dari Malaysia, Vietnam dan Singapura. Kemenperin merumuskan sejumlah kendala yang masih dihadapi oleh perajin mebel di Indonesia.
"Misalnya pasokan bahan baku, jumlah peraji yang semakin berkurang, tumpang tindih regulasi serta promosi," papar Gati. Kemenperin mengklaim telah mengambil sejumlah langkah strategis untuk menangangani hambatan tersebut.
Dalam penyediaan bahan baku Kemenperin menggandeng Perhutani. Sejumlah regulasi yang tumpang tindih dalam industri mebel juga mulai dihilangkan.
Kemenperin juga memberi bantuan mesin dan bimbingan teknis untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas produksi mebel. Sedangkan dalam hal promosi, Kemenperin memberikan lokakarya e-smart IKM.
"Meski demikian kita tidak mengesampingkan promosi offline, misalnya dengan membuat ruang-ruang pamer" ujarnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SUR)
