Saat ditemui di rumahnya, Gandekan Tengen RT 02 RW 03, Joko menerangkan membuat patung Natal sejak tahun 2012. "Pertama kali terinspirasi dari skema patung kelahiran Yesus. Akhirnya saya jajaki membuat satu set patung," ungkap Joko, Selasa (20/12/2016).
Satu set patung bercerita mengenai satu peristiwa. "Biasanya satu set terdiri dari empat belas patung. Jumlahnya beragam," paparnya.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Produksi satu set patung, lanjutnya, butuh waktu hingga satu minggu. Joko membanderol satu set patung dengan harga Rp500 ribu hingga Rp600 ribu.
"Banyak pemesan perseorangan maupun instansi. Dari luar kota seperti Bandung, Manado, dan Jakarta pun ikut memesan," katanya.

Patung ornamen Natal produksi Joko. (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)
Tak hanya Joko, warga Solo lainnya, Warseno pun menangkap momen tahun baru dengan memproduksi terompet. Ketika bertandang ke rumahnya, RT 02/IV Kelurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo, ratusan terompet produksi Warseno tersusun rapi, siap kirim.
"Sudah kurang lebih 25 tahun saya menekuni usaha ini," ungkap Warseno.
Warseno terus mengembangkan model terompet, seperti bentuk naga di tahun 2000. Produknya dipasok ke beberapa daerah seperti Wonogiri, Sukoharjo, Boyolali, dan Sragen.
Dalam kurun waktu tiga bulan, lanjutnya, sekitar 8 ribu terompet dapat diproduksi. "Omzet bisa mencapai Rp15-Rp20 juta per bulan jelang pergantian tahun," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
