
Saat Metrotvnews.com mendatangi toko yang berlokasi di Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, itu, sejumlah karyawan sibuk merangkai bunga ucapan. Karangan-karangan itu merupakan pesanan dari puluhan konsumennya.
Dwi Santo, pemilik toko mengaku kebanjiran orderan. Ia pun mendatangkan beragam bunga dari berbagai kota di Indonesia, seperti Bandung dan Semarang.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Ia mengaku sudah mempersiapkan diri untuk memenuhi permintaan. "Dari jauh hari untuk tulisan ‘Gibran dan Selvi’ supaya tidak kelabakan saat mendapatkan banyak pesanan,” ujarnya.

Perempuan berusia 48 tahun itu pun berkisah soal toko 'warisan' eyangnya. Dirinya merupakan generasi keempat yang menjalankan bisnis karangan bunga.
"Toko ini (di Jalan Slamet Riyadi) termasuk yang pertama berdiri, kemudian menyusul beberapa toko lain di sekitar sini, misalnya Soemarjan dan Samekto," katanya saat ditemui pada Kamis (4/6/2015).
Ayah dan kakaknya pun mengelola bisnis serupa. Menurutnya, poin utama usahanya untuk menjaga 'kesetiaan' konsumen adalah kualitas. Satu di antaranya menjaga kesegaran bunga.
"Kalau kita selalu menjaga kualitas sejak dulu. Saya pun selalu mencari referensi untuk desain-desain baru," ujar perempuan berkerudung hijau itu.
Ia juga kebanjiran pesanan saat Presiden ke-2 RI Soeharto dan bos PT Sri Rejeki Isman Textile (Sritex) meninggal.
"Waktu Pak Lukminto meninggal kita harus mengerjakan 600 karangan bunga dalam waktu satu minggu," katanya.
Dengan mengutamakan kualitas, tak heran bila Rumah Bunga Pawiroredjo mampu meraih omzet Rp70 juta hingga Rp100 juta per tahun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(RRN)
