Demikian isu yang mengemuka dalam Pelatihan Kaum Muda menuju Dunia Kerja yang digagas Plan International Indonesia di Semarang, Kamis 27 Oktober 2016.
Pelatihan ini sudah dilakukan sejak Januari 2014. “Sebanyak 87 persen peserta pelatihan telah meraih pekerjaan layak. Di tempat kerjanya, mereka yang didominasi anak muda perempuan ini berkembang menjadi pekerja produktif,” kata Deputy Country Director Plan International Indonesia, Nono Sumarsono, di acara Pengukuhan Forum Alumni Pemberdayaan Ekonomi Kaum Muda Jawa Tengah, di Ungaran, Semarang, Jawa Tengah, Kamis (27/10/2016).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Sebelumnya, Kementerian Tenaga Kerja menyebutkan, sampai 2030, Indonesia masih kekurangan 115 juta tenaga terampil. Saat ini, Indonesia baru memiliki 55 juta tenaga terampil.
Menurut Nono, semua pihak, termasuk pemerintah dan kalangan dunia, perlu mencari solusi terbaik untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil di kalangan anak muda. Apalagi saat ini persaingan antara tenaga kerja lokal dengan tenaga kerja asing semakin terbuka.
Sebagai organisasi kemanusiaan independen yang berkomiten agar anak terbebas dari kemiskinan, kekerasan, dan ketidakadilan, Plan International Indonesia mengimplementasikan sejumlah program, mencakup perluasan akses anak muda, terutama perempuan, di bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi.
Dia berharap pelatihan yang diimplementasikan bersama Balai Besar Pengembangan Latihan Kerja (BPPLK) dan Magistra Utama itu diharapkan menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja terampil, khususnya di Semarang.
"Program ini didesain untuk memberdayakan anak muda, terutama yang marjinal, termasuk anak muda berkebutuhan khusus," katanya.
Proyek ini didanai Plan International Jerman dan merupakan bagian dari program pemberdayaan ekonomi anak muda (Youth Economic Empowerment) Plan International Indonesia.
“Bersama BBPLK, Plan International membangun mata rantai pemberdayaan anak muda untuk memasuki dunia kerja. Di Semarang kami fokus pada pengembangan keterampilan kerja di bidang resto dan retail,” kata Mirza Kusuma, National Project Manager Youth Economic Empowerment Plan International Indonesia.
Setidaknya, menurut Mirza, di kedua bidang itu sangat terlihat adanya kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan tenaga kerja terampil. Dalam
program ini, Plan International Indonesia menggandeng Paguyuban HRD Jawa Tengah, untuk memfasilitasi penempatan kerja para peserta pelatihan.
Dalam kesempatan tersebut, sekitar 300 alumni pelatihan berkumpul, dan mengukuhkan Forum Alumni Pemberdayaan Ekonomi Kaum Muda Jawa Tengah. Mereka memanfaatkan momentum Hari Sumpah Pemuda untuk memperkuat pemberdayaan anak muda, khususnya di bidang ekonomi.
“Mereka berkomitmen membangun jaringan untuk memperbesar peluang memperoleh kesempatan kerja yang layak. Melalui forum tersebut, mereka bertukar informasi,” kata Mirza.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(UWA)
