Kepala Bidang Pengembangan Produk Wisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Gunungkidul, Hary Sukmono mengatakan pihaknya masih belum bisa menargetkan jumlah kunjungan wisata. Bahkan, pemerintah hingga kini belum bisa menghitung jumlah wisatawan mancanegara yang masuk ke Gunungkidul.
"Kami kesulitan karena belum memiliki pedoman penghitungan. Selain itu, tidak ada perbedaan tarif antara wisatawan lokal dan asing," kata Hary melalui sambungan telepon, Rabu (11/5/2016).
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Ia menjelaskan, pengakuan oleh UNESCO secara tak langsung sudah ikut menjadi media promosi. Meski demikian, menurut Hary, hal itu tak memiliki dampak langsung terhadap masyarakat di Gunungkidul.
Pemerintah, lanjut Hary, saat ini tengah fokus penguatan fungsi geopark sebagai kawasan edukasi, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, hal itu menjadi penting lantaran jika tak bisa dipertahankan dalam empat tahun, Kebupaten Gunungkidul bisa dikeluarkan dari keanggotaan GGN. "Ke depan pasti akan ada target wisatawan asing ke Gunungkidul,"ucapnya.
General Manager (GM) Geopark Gunungsewu Budi Martono mengatakan, jika upaya promosi juga untuk menjaga ekosistem agar tetap lesatari tidak rusak dan terus diakui dunia. Seharusnya menurut dia, Pemda DIY ikut melakukan promosi ke luar negeri.
"Ada 13 geosite yang bisa ditawarkan sebagai objek wisata. Padahal pemda DIY yang tidak memiliki area, harusnya ikut promosi ke luar negeri atas keberadaan geopark ini," katanya.
Dijelaskannya, Gunungkidul salah satu wilayah di DIY yang menyumbang kunjungan wisatawan cukup tinggi. Sehingga perlu sentuhan agar kawasan ini semakin berkembang.
Bersama Gunungkidul, ada juga GGN di Pacitan Jawa Timur dan Wonogiri Jawa Tengah yang sudah mendapat pengakuan serupa. "Jadi memang kita butuh sentuhan Pemda DIY, Jateng dan Jatim untuk promosi," imbuhnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
