Sebelum sukses menjadi pengusaha, pria 40 tahun ini adalah sopir angkot. Keputusan banting setir diambil lantaran penghasilan sebagai sopir dirasa tidak cukup untuk menghidupi.
Tekadnya makin kuat ketika dia melihat banyaknya limbah kayu di daerahnya. Maklum, Fuad tinggal di RT 05 RW 4 Desa Mulyoharjo Kecamatan Jepara Kota, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah. Daerah ini merupakan sentra kerajinan ukir terbesar di Jateng.
Dari limbah kayu jati perusahaan mebel, Fuad dibantu sepuluh pekerja, membuat kerajinan tangan berbagai macam miniatur alat transportasi. Seperti eskafator, pesawat terbang, kereta api, dan kapal kebanggan Indonesia, Dewa Ruci.
“Ide awalnya saat saya melihat banyak potongan-potongan kayu jati bekas mebel hanya dijadikan kayu bakar. Akhirnya saya manfaatkan untuk membuat kapal Dewa Ruci karena kalau membeli kayu jati mahal,” papar Fuad, Rabu (27/1/2016).
Ternyata, miniatur Dewa Ruci buatan Fuad mampu membetot perhatian turis asing yang kebetulan berkunjung ke Jepara. Dari situlah, pasar internasional terbuka lebar bagi Fuad. Kini, pesanan miniatur kapal Dewa Ruci banyak datang dari Italia, Australia, Iran, Malaysia, dan negara-negara Eropa lainnya.
“Sebulan rata-rata tiga sampai lima unit kirim ke luar negeri, itu saja sampai kuwalahan,” kata Fuad.
Berkait harga, Nur Fuad mengaku tak mematok harga tetap. Murah atau mahalnya barang pesanan disesuaikan dengan tingkat kerumitan pengerjaan. Seperti kapal Dewa Ruci berukuran dua meter, dibandrol mulai dari Rp7 juta-Rp15 juta.
“Kalau miniatur mobil-mobilan mulai Rp2 juta sampai Rp5 juta,” imbuh Fuad.
Selain mahir membuat miniatur alat transportasi, Fuad mengaku, siap dan bisa membuat aneka jenis miniatur lainnya berbahan baku kayu. Seperti yang saat ini dikerjakan bersama anak buahnya, miniatur mobil-mobil klasik.
“Asal ada contoh bentuk aslinya, pasti bisa dibuat. Karena bisa dipelajari dan dibuat asalakan tekun,” tandas Fuad.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
