“Orang saat ini lebih memilih menggunakan Facebook, WhatsApp, surel dan masih banyak lagi. Prangko mulai tergerus,” ungkap Vice President Konsinyasi dan Filateli PT Pos Indonesia, Yuniswar, di Solo, Jawa Tengah, Kamis (12/5/2016).
Satu-satunya 'penolong' prangko adalah kartu pos. Yuniswar menambahkan, di Indonesia muncul komunitas Postcrossing yang beranggotakan anak-anak muda. “Mereka saling berkirim kartu pos, dari satu daerah ke daerah lainnya. Bahkan ke luar negeri. Di sini, prangko masih tetap digunakan,” kata dia.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Fakta tersebut mendorong Kementerian Komunikasi dan Informatika menggelar Lokakarya Filateli Nasional bertajuk Filateli, Cara Pintar Mengenal Dunia, di Kota Solo, Kamis, 12 Mei 2016. Acara ini untuk menggalakkan kembali kecintaan generasi muda terhadap prangko.

Wakil Wali Kota Solo Achmad Purnomo membuka Lokakarya Filateli Nasional di Solo, Kamis (13/05/2016). (Metrotvnews.com/Pythag Kurniati)
Ketua Umum Perkumpulan Filatelis Indonesia, Suyono memaparkan, meski tergeser dengan keberadaan alat-alat elektronik, prangko masih disebut multifungsi. Prangko, ujarnya dapat dikatakan sebagai ikon kedaulatan sebab dalam prangko tertulis nama atau identitas negara. Prangko juga dapat menjadi ikon sejarah.
“Sebab yang tergambar di prangko biasanya berhubungan dengan peristiwa penting,” paparnya.
Selain itu, prangko juga dapat digunakan sebagai sarana diplomasi. Suyono menuturkan baru saja Indonesia-Thailand meluncurkan prangko bersama pada 10 Mei 2016. “Bukan hanya itu, prangko itu sarana edukasi dan budaya,”kata Suyono.
Dia berharap, generasi muda kembali mencintai dan mengenal prangko, seperti gerakan seribu filatelis pada dekade 90-an. “Mudah-mudahan para peserta lokakarya yang kebanyakan anak-anak muda ini nantinya bisa menjadi filatelis-filatelis baru yang mencintai keberadaan prangko,” tutup dia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
