Baru sedikit pedagang yang menerima kartu uang elektronik alias e-money sebagai alat pembayaran retribusi. Di sisi lain, Pemkot Solo pun masih mencari lokasi untuk menempatkan mesin electronic data capture (EDC).
Ketua Paguyuban Taman Pasar Burung dan Ikan Hias Depok, Suwarjono mengungkapkan baru 6,5 persen pedagang yang memegang e-money.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Baca: Solo Target 44 Pasar Terapkan e-Retribusi
“Pedagang di Pasar Depok jumlahnya sekitar 300. Namun saat ini yang menerima kartu baru 20 orang saja,” ungkapnya, Kamis (08/09/2016). Retribusi nontunai diluncurkan 1 September.
Salah seorang pedagang, Lagiyanto, mengaku, sangsi dengan penerapan e-retribusi di Pasar Depok. “Saya juga belum menerima kartu. Lagi pula banyak pedagang yang belum tahu rincian teknis penerapan e-retribusi. Masih banyak yang bingung,” ujar dia saat ditemui Metrotvnews.com di Pasar Depok Solo, Jawa Tengah.
Menurut Lagiyanto, beberapa rekannya yang menerima kartu juga masih bertanya-tanya. "Lantaran alatnya belum ada, hingga sekarang masih ditarik secara manual,” imbuhnya.
Kepala Dinas Pengelolaan Pasar (DPP) Kota Solo, Subagiyo mengakui kesiapan pedagang Pasar Depok dan penerapan pendukung e-retribusi menjadi kendala memberlakukan sistem pembayaran retribusi secara nontunai ini. Sedangkan pihak Pemkot Solo hingga saat ini masih fokus pada penempatan alat e-retribusi.
Baca: E-Retribusi Pasar Tradisional Solo Diperluas
“Kami masih mencari lokasi penempatan alat e-retribusi yang paling pas dan mudah dijangkau pedagang,” kata dia.
Menurut Subagiyo, setelah diluncurkan di dua pasar, baru 55 persen pedagang Pasar Depok yang sudah bersedia menabung, sementara di Pasar Singosaren baru 30 persen pedagang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(SAN)
