BPBD DIY Sosialisasi Mitigasi dari Desa hingga Sekolah
ilustrasi Medcom.id
Yogyakarta: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan mitigasi pengurangan risiko bencana dari desa. Mitigasi diberikan untuk desa tanggung bencana (Destana) maupun desa di sekitarnya. Selain itu, mitigasi juga diberikan ke siswa-siswa di sekolah. 

Kepala Pelaksana BPBD DIY, Biwara Yuswantana mengatakan ada sebanyak 213 Destana yang tersebut di empat kabupaten dan satu kota madya. Destana tersebut kemudian menyerahkan dokumen sejumlah titik rawan bencana, seperti banjir, yang ada di wilayahnya. Pemberian laporan itu dilakukan secara kontinyu. 

"(Mitigasi) itu sudah terencana dan terprogram. Setahun ini kita membangun 25 destana, misalnya, sesuai ancaman bencana di kawasan masing-masing," kata Biwara di Yogyakarta pada Jumat, 26 Oktober 2018. 


Dari destana, katanya, masyarakat mengantisipasi kerawanan bencana di titik-titik rawan bencana, seperti banjir dan longsor. Warga di kawasan rawan bencana dinilai harus lebih siaga saat hujan dengan intensitas tinggi turun. 

Jika diperlukan, menurut Biwara, warga bisa mengungsi sementara di lokasi yang dianggap lebih aman. "Tanah longsor selalu diawali hujan deras. Kalau hujan deraas jangan malah tidur, tapi harus waspada. Jika ada pergerakan tanah atau tanah terbawa air, mungkin bisa mengamankan diri di tempat bebas ancaman," ujarnya. 

Selain mitigasi ke masyarakat, langkah serupa juga dilakukan ke siswa-siswa di sekolah. Pemberian mitigasi bencana itu dilakukan di sekolah negeri maupun swasta yang dilakukan BPBD kota dan kabupaten. Dari mitigasi siswa itu diharapkan bisa membantu pengurangan risiko bencana. 

"Kalau misal telanjur longsor tak bisa. Dalam artian bencana musim hujan tahapannya tak seperti erupsi Gunung Merapi, ada waspada, siaga, dan awas," ungkapnya. 

Ia menambahkan, BPBD juga telah memasang tiga early warning system (EWS) atau alat pendeteksi dini bencana di kawasan rawan longsor Srimartani, Selomartani, dan Wilayah, Kabupaten Bantul. EWS tersebut bisa mendeteksi curah hujan dan pergerakan tanah. 

"Alat itu akan mengirim data ke Pusdalops (Pusat Pengendalian Operasi) BPBD DIY. Lalu kami nanti akan memberikan warning ke masyarakat mengenai ancaman bencana. Jadi masyarakat bisa waspada," tuturnya. 

Sekretaris Daerah Pemerintah DIY, Gatot Saptadi menambahkan, sejumlah titik rawan bencana telah terpetakan, baik potensi longsor maupun banjir. Menurut dia, kewaspadaan dan kesiagaan masyarakat di lokasi rawan bencana menjadi salah satu faktor minimalisasi korban. 

"Kami sudah melakukan pencegahan sebelum bencana. Kita harapkan masyarakat bisa siap dan tanggap saat musim hujan," ungkapnya. 



(ALB)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id