Sendratari Joko Kendil Warnai Acara Lintas Agama

Mustholih 26 Oktober 2018 18:51 WIB
seni dan budaya
Sendratari Joko Kendil Warnai Acara Lintas Agama
Aksi penari di sendratari Joko Kendil di acara lintas agama di Semarang, Jumat, 26 Oktober 2018, Medcom.id - Mustholih
Semarang: Joko Kendil bermuram durja. Meski hidup di sebuah istana, ia tidak punya teman yang bersedia mengajaknya bermain.

Semua teman dan keluarga di istana menjauhi Joko Kendil lantaran ia punya wajah yang buruk rupa. Bahkan, Joko Kendil sampai didorong hingga tersungkur saat ia mencoba bermain bersama teman-temannya yang sebaya.

Kisah itu diperagakaan dalam sebuah babak pentas seni Sendratari Joko Kendil di pembukaan Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Agama yang digelar di UTC, Semarang, Jawa Tengah, Jumat, 26 Oktober 2018. Seratusan penari dilibatkan dalam pentas itu memainkan kisah Joko Kendil itu selama 1,5 jam.


Joko Kendil merupakan karakter dalam dunia dongeng yang diceritakan berwajah buruk rupa. Dia dilahirkan dari rahim seorang permaisuri yang diguna-guna oleh selir raja.

Joko Kendil bertumbuh dewasa menjadi pemuda yang punya cita-cita mulia. Dia ingin menyatukan sebuah negeri dalam semangat persaudaraan kasih.

Demi cita-citanya itu, Joko Kendil mengikuti sayembara. Dia memenangkan sayembara itu hingga akhirnya diangkat menjadi raja yang menyatukan negerinya dalam bingkai persaudaraan.

Aloys Budi Purnomo selaku Ketua Komisi hubungan Antaragama dan Kepercayaan Keuskupan Agung Semarang menyatakan ada 150 pemain yang dilibatkan dalam Sendratari Joko Kendil tersebut. Mereka terdiri dari remaja dan anak muda dari lintas agama. 

"Joko Kendil itu simbol orang muda yang kadang-kadang diremehkan. Tapi anak muda bisa berkreasi untuk membangun peradaban kasih," kata Romo Budi, sapaan akrabnya.

Dalam kisah, kata Romo Budi, Joko Kendil merupakan pemuda yang memiliki wajah buruk rupa. Dia sering dihina dan dicerca tapi tetap bertahan untuk mewujudkan dalam sebuah negara. 

"Joko Kendil ditopang oleh para tokoh lintas agama yang meneguhkan cita-anak anak muda," ujar Romo Budi menegaskan.

Menurut Romo Budi, sendratari Joko Kendil ini dimainkan untuk membuka kegiatan Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas-agama di Semarang. Kegiatan srawung ini digelar hari ini di UTC hingga 28 Oktober 2018. 

"Persiapan sendratari Joko Kendil ini sudah dilakukan sejak April kemarin. Minimal setiap bulan sekali, para pemain mengadakan latihan. Mereka semangat sekali," tegas Romo Budi.

Meski Keuskupan Agung Semarang bertindak sebagai tuan rumah, Srawung Persaudaraan ini dibuka dengan doa secara hindu. "Kita ingin orang-orang muda dibangun dalam kesadaran sebagai orang nasionalis religius apapun agama dan kepercayaan masing-masing," jelas Romo Budi.

Romo Budi menyatakan srawung ini merupakan modifikasi dari Kongres Persaudaraan Sejati yang dilaksanakan 24-26 Oktober 2014.  Kongres ini kemudian diganti menjadi srawung demi keinginan agar kumpul-kumpul anak muda lintas iman tersebut lebih membumi. 

"Tujuannya untuk merawat Indonesia dalam semangat persaudaraan dalam keberagaman. Yang diharapkan adalah peradaban kasih bagi masyarakat Indonesia yang sejahtera, bermartabat dan beriman, apa pun agama dan kepercayaan kita," ungkap Romo Budi.

Srawung Persaudaraan Sejati Orang Muda Lintas Agama, kata Romo Budi, hidup dari persekutuan paguyuban orang muda lintas agama di berbagai kota dan wilayah di Jateng. "Harapannya, puncak srawung menjadi momen lahirnya duta-duta persaudaraan, perdamaian dalam keberagaman di tengah masyarakat dan bangsa Indonesia," tegas Romo Budi.

Srawung Persaudaraan ini dihadiri seribu peserta lintas agama. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Keuskupan Agung Semarang dengan menggaet Pelita Semarang, Lakpesdam NU Jateng, dan Gusdurian Jateng-DIY.




(RRN)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id