Mashadi (tengah) usai menerima kalpataru di Istana Negara, Bogor, Jawa Barat. Medcom.id/Kuntoro Tayubi
Mashadi (tengah) usai menerima kalpataru di Istana Negara, Bogor, Jawa Barat. Medcom.id/Kuntoro Tayubi (Kuntoro Tayubi)

Mashadi, Penyelamat Pesisir yang Dianggap Gila

lingkungan hidup kisah inspiratif
Kuntoro Tayubi • 19 Januari 2019 12:56
Brebes: Berkat kiprah di bidang lingkungan Mashadi asal Desa Kaliwlingi, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, meraih penghargaan Kalpataru dari Presiden RI Joko Widodo pada 2015. Mashadi berjibaku menjaga pantai sejak 2005, bahkan sempat dikatai "gila".
 
Dia mendapat penhargaan setelah merehabilitasi hutan mangrove, mengelola pesisir, memberdayakan masyarakat pesisir dan menguatkan kelembagaan kelompok. Dia juga tidak bosan mengkampanyekan penyadaran masyarakat, pembelajaran dan pendidikan lingkungan bagi pelajar dan perlindungan kawasan hutan mangrove.
 
Pria kelahiran Brebes 1 April 1971 ini memberdayakan masyarakat lokal lewat pemanfaatan potensi lokal, pemanfaatan lahan kritis, perlindungan kawasan hutan mangrove. Dia dan masyarakat lokal pesisir membentuk satuan tugas penjaga segara (Satgas Gara) dan pertanian berkelanjutan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Abrasi yang menggerus daratan pantai dukuh Pandansari Desa Kaliwlingi sejak 1985 hingga 2010 yang luasnya berkisar 850 hektare membuat efek  domino bagi masyarakat. Mulai dai hilangnya mata pencaharian, pengangguran, kemiskinan, hingga urbanisasi.
 
“Kerusakan lingkungan parah yang merupakan pemicu utama. Penebangan hutan bakau atau mangrove secara masif untuk tambak udang windu menyebabkan abrasi besar-besaran di pesisir pantura Brebes,” ungkap Mashadi, Sabtu, 19 Januari 2019, di rumahnya di Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Brebes.
 
Hal itu, lanjut Mashadi, diperparah pemanasan global. Keprihatinan pria lulusan Akademi Perdagangan Tjendekia Puruhita Semarang membulatkan tekadnya memulihkan ekosistem pesisir melalui reboisasi mangrove.
 
“Saya kemudian putuskan hijrah ke kampung halaman istri saya, Muryati, di Dukuh Pandansari, Desa Kaliwlingi, Kecamatan Brebes 2004, untuk memulai perjuangan saya,” kata pria asal Desa Pagejugan, Kecamatan/Kabupaten Brebes ini.
 
Dianggap gila
 
Namun, niat mulianya tak semudah membalikan telapak tangan. Banyak masyarakat menganggapnya tidak waras lantaran hendak 'membendung' arus laut dengan bakau.
 
Saat itu sekitar 1.900 hektare tambak warga di pedukuhan tersebut hilang diterjang abrasi dan berubah menjadi lautan. Sejumlah warga ia ajak untuk mewujudkan idenya, tetapi justru mereka menganggap mustahil.
 
Mashadi tak kehilangan akal. Ia memutuskan bergabung dengan Ikatan Petani Pengendalian Hama Terpadu Indonesia (IPPHTI). Dari organisasi ini, Mashadi mendapat tugas untuk mengedukasi masyarakat pesisir. Sosialisasi dengan memberikan gambaran dampak kerusakan lingkungan ia gencarkan, termasuk melalui berbagai film dokumenter.
 
”Saya dianggap gila. Namun ini justru menjadi pemicu semangat. Konsep yang saya tekankan, lebih baik menyalakan lilin daripada mengumpat kegelapan,” katanya.
 
Anak bungsu pasangan Rukyat dan Dasriah ini sudah berhasil mengajak warga menanam 4,35 juta bibit mangrove. Bibit itu bantuan 18 perusahaan swasta, organisasi sosial, pemerintah pusat, pemerintah provinsi, dan pemerintah kabupaten.
 
Mashadi, Penyelamat Pesisir yang Dianggap Gila
Mashadi saat dipanggil ke Istana Negara, Bogor, Jawa Barat. Medcom.id/Kuntoro Tayubi

 
Bibit ditanam di area seluas 250 hektare. Namun, campur tangannya ini mampu memunculkan tanaman alami di lahan seluas 373 hektare. Total 623 hektare lahan berhasil diselamatkan.
 
Saat ini Desa Wisata Pandansari Kaliwlingi Brebes telah menjadi destinasti wisata baru berupa hutan mangrove. Kawasan hutan mangrove itu sengaja dibuat untuk mencegah abrasi yang makin meluas di pesisir pantai Brebes.
 
“Yang saya lakukan semata-mata untuk menyelamatkan, bumi tempat kita hidup,” tutur Mashadi.
 
Sabuk hijau pesisir Brebes
 
Penyelamatan pesisir dengan mangrove berdampak positif pada terjaganya wilayah pesisir dari abrasi  yang selalu  mengancam sebagian wilayah budidaya perikanan di pantura Brebes. Terbentuk sabuk hijau pantai (coastal green belt) di sebagian wilayah  pesisir Kabupaten Brebes.
 
Meningkatnya kesadaran masyarakat khususnya kelompok dampingan  terhadap ekosistem pesisir dan dampak global warming dan climate   change. Pemanfaatan potensi lokal yang terabaikan untuk peningkatan ekonomi masyarakat pesisir.
 
“Alhamdulillah, dengan dengan sedimen dan tanaman mangrove banyak habitat fauna dan flora yang hilang kembali tumbuh dan berkembang seperti Soneratia, acantus , burung migran dan kura kura,” pungkasnya.
 
Selain menerima Kalpataru, Mashadi juga pernah meraih prestasi dan penghargaan berupa penghargaan Adi Bhakti Mina Bahari bidang pengelolaan pesisir kategori perorangan dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia pada 2011.
 
Apresiasi gerakan satu miliar pohon, One Bilion Indonesian Tress, dari Gubenur Jawa Tengah pada 2012 dan Penghargaan Dompet Dhuafa Award Kategori Pejuang Lingkungan pada 2014.
 
 
 

(SUR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif