Barista Disabilitas Terobos Stigma Keterbatasan
Eko Sugeng, warga Sleman penyandang disabilitas yang menjadi barista. Medcom.id-Ahmad Mustaqim
Gunungkidul: Eko Sugeng terlihat terampil saat memasukkan kopi sesuai takaran untuk kemudian dihaluskan. Meski dengan kondisi fisik tak sempurna, warga Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini bisa terampil menjalankan pekerjaan sebagai barista kopi. 

Dengan kondisi kedua tangan tak sempurna, Eko dengan cekatan memasukkan biji kopi ke dalam gelas dengan sendok. Biji tersebut kemudian ditimbang. Setiap satu cup kopi membutuhkan biji kopi 15 gram.

“Setelah ditimbang, biji kopi dihaluskan atau digiling,” kata Eko saat ditemui di salah satu stan pameran pada kegiatan Temu Inklusi ke III di Kompleks Balai Desa Plembutan, Kecamatan Playen, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Rabu 24 Oktober 2018.


Kopi halus tersebut kemudian dimasukkan ke sebuah saringan yang berada di atas pembuat kopi. Kopi halus lalu disiram dengan air panas dari sebuah teco kecil. Setlah melewati sejumlah proses, kopi bisa disajikan. 

“Tergantung mau disajikan seperti apa. Bisa milih panas atau pakai es kalau yang suka dingin,” ujarnya. 

Eko sesekali mendongakkan kela bersama badan saat merasa pegal-pegal. Salah satu rekannya, Yuli, tergandang dengan senang memijat pundak Eko. 

Eko mengaku tangannya haruis diamputasi saat mengalami kecelakaan pada 2002. Lelaki 34 tahun ini mengatakan kecelakaan terjadi saat dirinya membantau saudaranya membenahi antena televisi. Peristiwa itu terjadi saat ia masih berusia 18 tahun. 

Situasi itu membuat Eko harus belajar beradaptasi dengan keterbatasan. Singkat cerita, ia kemudian tinggal di asrama milik Yayasan Kristen untuk Kesehatan Umum (Yakkum) Yogyakarta, untuk berlatih mandiri. Saat tinggal di Yakkum, ia sering minum kopi di sebuah kafe dekat Yakkum. 

Suatu ketika, seorang barista kafe tersebut mendorong Eko untuk belajat membuat kopi. “Kamu kan sering minum kopi, kenapa tidak belajar saja membuat kopi,” ujarnya menirukan barista ketika itu. 

Dari itu, Eko bersama tujuh orang lain kemudian mendapat pelatihan menjadi barista yang difasilitasi sebuah lembaga internasional. Mereka belajar proses produksi kopi dari tingkat petani hingga siap disajikan. Salah satu lokasi belajar mereka berada di kawasan Suroloyo, Kabupaten Kulon Progo. 

“Kami belajar dari dasar sekali. Merawat (tanaman) kopi, memanen, mengeringkan, sampai bagaimana menyeduh kopi dengan baik,” ungkapnya. 

Dari situ, Eko lantas menjadikan barista sebagai pekerjaan. Eko bekerja di kafe yang pernah menjadi langganannya menikmati kopi di bilangan Jalan Kaliurang, Sleman. Eko kini tinggal di sebuah kontrakan bersama seorang istri dan anaknya yang masih balita. “Penghasilan saya lumayan. Istri juga ikut bekerja,” ujarnya. 

Sebagai disabilitas, Eko mengaku perlu mendapatkan pengakuan. Minimal, kata dia, kelompok masyarakat seperti dirinya mendapatkan pelatihan keterampilan dan sertifikat. Hal itu kemudian bisa digunakan modal untuk bisa menjadi mandiri. 

“Saya mengajak teman-teman disabilitas untuk tidak patah semangat. Masih ada banyak jalan selama kita punya kemauan yang besar. Keinginan saya ingin memiliki kedai (kopi) sendiri,” ujarnya. 

Direktur Eksekutif Sasana Inklusi dan Gerakan Advokasi Difabel (SIGAB) Yogyakarta, Joni Yuliyanto mengatakan kelompok disabilitas perlu mendapatkan kesempatan yang sama dengan masyarakat biasa. Ia menilai keberhasilan pemerintah bisa dilihat salah satunya dari pemberdayaan masyarakat yang termarjinalkan. 

Deputi V bidang Politik, Hukum, Keamanan, dan Hak Asasi Manusia di Kantor Staf Presiden, Jaleswari Pramodhawardhani menambahkan, pemerintahan Presiden Joko Widodo berkomitmen untuk melindungi hak-hak kelompok rentan, termasuk disabilitas. Ia mengatakan pemerintah sudah memasukkan program itu ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) di awal masa pemerintahan. 

“Ini untuk melindungi hak-haknya untuk mendapat kesejahteraan sosial dan keadilan merata dalam pembangunan. Statemen presiden ini diimplementasikan berupa UU Nomor 8 Tahun 2016 tentang penyandang disabilitas,” ujar Jaleswari. 

Ia mengakui masih membutuhkan upaya lebih untuk bisa mengubah cara pandang terhadap disabilitas pembangunan organisasi untuk menampung kebutuhan kelompok tersebut. “Termauk dalam memonitoring kerja-kerja kementerian. Ini dalam pembahasan,” kata dia. 



(ALB)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id