Nasionalisme di Museum Ukir Sasono Adhi Praceko

Rhobi Shani 11 September 2018 10:08 WIB
museum
Nasionalisme di Museum Ukir Sasono Adhi Praceko
Garuda Pancasila berukuran 2x2 meter koleksi Museum Ukir Sasono Adhi Praceko. Medcom.id/Rhobi Shani
Jepara: Pintu kayu berukuran lebar meter tertup rapat terkunci. Di samping kanan kiri pintu, melekat di tembok, sebuah ukiran kayu berukuran cukup besar. Tepat di atas pintu, di tengah-tengah bangunan, terdapat ukiran dan tulisan Sasono Adhi Praceko.

Bangungan tersebut merupakan Museum Ukir Sasono Adhi Praceko yang terletak di Jalan Kartini Jepara, di dalam SMP Negeri 6 Jepara. Meski hanya berukuran 7x6 meter, museum itu banyak menyimpan karya ukir di masa perjuangan bangsa Indonesia.

Kepala Sekolah SMP Negeri 6 Jepara, Darono menceritakan, bangunan Museum Ukir Sasono Adhi Praceko yang berhadapan dengan ruang Tata Usaha SMP Negeri 6 Jepara. Ruangan itu dulunya merupakan ruang pamer.


"SMP Negeri 6 ini, dulu adalah sekolah Open Bare Ambacth School di tahun 1929 sampai 1931. Kemudia berganti nama menjadi Ambacth School Voor Inlanders sampai tahun 1932. Tercatat sembilan kali mengalami perubahan nama," terang Darono sembari menyelesaikan pekerjaan di meja kerjanya, Senin, 10 September 2018.

Sejenak berbincang di ruang kerja, Darono mengajak melihat dari dekat koleksi ukiran-ukiran yang tersimpan di dalam museum.


Kepala Sekolah SMP Negeri 6 Jepara Darono mengajak tim Medcom.id melihat koleksi Museum Ukir Sasono Adhi Praceko. Medcom.id/Rhobi Shani


Menyimpan ukiran penuh sejarah

Ketika pintu museum dibuka, ukiran lambang negara Garuda Pancasila berukuran 2 meter persegi yang dibuat pada tahun 1955, nampak gamblang di mata dari luar ruang. Hawa pengap langsung menyergap hidung saat Medcom.id masuk ke dalam museum.

Udara sedikit terasa segar setelah dua kipas angin yang menempel di dinding. Empat lampu kecil di setiap sudut dan dua lampu gantung di tengah ruangan membuat ruangan menjadi terang.

"Jenis ukirannya bermacam-macam. Dari yang berukuran kecil sampai besar," kata Darono sembari menunjukan beberapa jenis ukiran.

Setelah melewati pintu museum, di sisi kanan terdapat ukiran Banteng Melawan Tiga Harimau. Ukiran tersebut dibuat pada tiga tahun sebelum Indonesia merdeka. Sementara, di sisi kiri terdapat ukiran sosok orang laki-laki memanggul bola dunia dililit ular. Ukiran ini dibuat pada tahun 1977.

"Ini dulu pesanan presiden Soekarno,” ujar Darono menunjuk pada ukiran orang yang memanggul bola dunia.


Etalase ukiran Borobudur (kiri) dan patung yang menjadi pesanan Presiden ke-1 RI Soekarno (kanan) di Museum Ukir Sasono Adhi Praceko, Jepara, Jawa Tengah. Medcom.id/Rhobi Shani

Tepat di tengah-tengah ruangan terdapat ukiran miniatur Candi Borobudur. Ukiran ini disimpan di dalam kotak kaca yang diberi penerangan. Di sudut kiri sisi depan, terlihat ukiran berbentuk gentong kayu. Ukiran itu digunakan untuk menyimpan bendera pusaka, dibuat dari kayu jati.

Krop pada lampu gantung yang digunakan untuk menerangi ruangan juga koleksi museum. Ukiran segi enam itu dibuat pada tahun 1950.

"Ukiran karya siswa kami seperti bingkai cermin genggam dan gantungan pakaian juga kami simpan di sini. Saat ini siswa kami yang kelas IX masih mendapat mata pelajaran Seni Ukir," ungkap Darono sambil melangkahkan kaki menuju keluar.

Di teras museum, Darono menyebut keberadaan museum ini tak banyak diketahui masyarakat. Pemerintah Kabupaten Jepara pernah berencana menjadi destinasi objek wisata.

Namun, hingga kini belum ada pembicaraan lebih lanjut. Meski begitu, museum ini cukup dinekal sejumlah warga negara asing.

"Kami pernah menerima rombongan mahasiwa dari Malaysia sebanyak dua bus. Dari Belanda, Australia, dan Jepang juga pernah ke sini,” pungkas Darono.


Salah satu koleksi di Museum Ukir Sasono Adhi Praceko, Jepara, Jawa Tengah. Medcom.id/Rhobi Shani





 



(SUR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id