CEO Privy Quarter, Marshall Pribadi merupakan sosok pendiri bersama rekannya, Guritno Adi Saputro. Keduanya merupakan warga Yogyakarta. Marshall mengatakan wujud kerja Privy Quarter bisa dilihat dari aplikasi bernama PrivyID.
Aplikasi tersebut mampu menyediakan tanda tangan digital untuk berbagai keperluan administrasi. "Dengan tanda tangan digital ini bisa menghemat kertas dan ramah lingkungan," kata Marshall saat peresmian kantor baru Privy Quarter di Jalan Imogiri Barat Nomor 4 Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat malam, 1 Januari 2019.
Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?
Penyediaan tanda tangan digital ini telah sesuai dengan Undang-Undang ITE pasal 11 ayat 8 dan peraturan Kemenkominfo, tentang tanda tangan digital. Bank Indonesia di salah satu lembaga sudah mengakui penggunaan tanda tangan digital itu.
"Dengan mengenalkan PrivyID kepada pemerintah dan masyarakat, kami ingin menunjukkan besarnya dampak yang dihasilkan oleh karya pemuda Yogyakarta," kata Marshall.
Perusahaan yang telah berdiri sejak 2016 ini menyerap hampir 200 tenaga kerja. Sekitar 80 persen di antaranya merupakan warga lokal, baik yang warga asli maupun pernah menempuh pendidikan tinggi di Yogyakarta.
"Kami juga ada kantor di Jakarta, sehingga memang ada sejumlah tim (tenaga kerja) yang ada di sana," ujarnya.
Sementara, Guritno Adi Saputro menjelaskan, tanda tangan digital PrivyID menerapkan teknologi kriptografi asimetris dipadukan dengan hardware penyimpanan grade militer yang membuatnya tak bisa dipalsukan.
Selain itu, juga mampu mendeteksi setiap perubahan yang terjadi pada dokumen, serta mewakili identitas setiap penandatangan dengan khusus.
Selain Bank Indonesia, ada sejumlah bank dan perusahaan yang yang menggunakannya. "Dari riset PrivyID, sudah ada tiga juta pengguna. Lalu, perusahaan leasing besar seperti Bussan Auto Finance, bisa menghemat biaya logistik dari semula 5,4 miliar rupiah per bulan menjadi hanya Rp 70 juta per bulan setelah menggunakan tanda tangan digital PrivyID," ungkapnya.
Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, Zudan Arif Fakrulloh menambahkan, perlu ada sinergi atau koneksi data dalam pelayanan kependudukan. Termasuk dalam hal penggunaan tanda tangan untuk jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 265 juta lebih.
"Data Dukcapil saat ini sudah dipakai 1170 lembaga, termasuk perusahaan starup baru PrivyID," ujar Zudan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
(DEN)
