Tanaman padi dengan sistem pertanian organik di Bantul. Medcom.id-Ahmad Mustaqim.
Tanaman padi dengan sistem pertanian organik di Bantul. Medcom.id-Ahmad Mustaqim. (Ahmad Mustaqim)

Perjuangan Desa di Bantul untuk Bertani Organik

Sosok Inspiratif
Ahmad Mustaqim • 15 Januari 2019 06:00
Bantul: Pemerintah Desa Panggungharjo, Kecamatan Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta berusaha menggalakkan sistem pertanian organik. Berada di kawasan pinggiran perkotaan, usaha mengajak bertani, apalagi tanpa memakai pestisida, menjadi salah satu tantangan.
 
Desa Panggungharjo mencoba mengampanyekan pangan sehat dengan memproduksi beras sehat lewat pengelolaan tanah kas desa. Tanah kas desa itu dikelola dengan tenaga petani di bawah pengelolan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggunglestari Desa Panggungharjo. 
 
Direktur BUMDes Panggungharjo, Eko Pambudi menjelaskan, gagasan mengampanyekan kesehatan lewat pertanian ini untuk mengajak petani di wilayah setempat mau meninggalkan obat-obatan kimia dan pestisida. Selain tak ramah lingkungan, hasil pertanian pun tak sepenuhnya bagus bagi tubuh manusia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kalau kami menyebutnya pertanian ramah lingkungan. Desa ini berada di pinggiran perkotaan (berbatasan dengan Kota Yogyakarta), ada juga titik yang terdapat limbah, termasuk limbah air," kata Eko saat ditemui di kawasan Desa Panggungharjo, Senin, 14 Januari 2019.
 
Sejak setahun lalu memulai, lahan yang tergarap ada sekitar 1.100 meter persegi. Lahan itu semua ditanami padi dengan tenaga lima petani. Pertanian itu digarap tanpa obat-obatan pestisida.
 
Eko mengungkapkan, pupuk yang digunakan berasal dari berbagai sampah organik di desa tersebut. Selain itu, hama yang biasanya menghinggapi tanaman diusir tanpa obat-obatan, namun menggunakan buah maja hingga daun sirih. Di samping itu, tanaman padi juga lebih banyak tumbuh anakan dibanding sistem pertanian yang lain.
 
"Keong yang ada di sawah sebagian menganggap sebagai hama. Tapi keong itu bisa dijadikan MOL atau mikroba organisme lain, sebagai bahan dasar pupuk," ungkap.
 
Eko mengatakan hasil panen yang didapat cukup signifikan. Jika pertanian sistem konvensional, dalam hal ini memakai obat-obatan dan pestisida, bisa menghasilkan lima sampai enam ton gabah per hektar, sistem pertanian organik itu bisa menghasilkan hingga tujuh ton gabah per hektar.
 
Hasil pertanian tanpa bahan kimia itu kemudian diwujudkan menjadi beras untuk dijual di swalayan desa setempat. Berat yang dijual itu diberi nama beras sehat panggung lestari (Bestari).
 
"Penjualan ini dikelola kelompok PKK. (Tujuan) pasarnya masyarakat desa. Harga besarnya Rp12 ribu per kilogram. Selisih sedikit dengan beras biasa yang dijual Rp10 ribu per kilogram," ujarnya.
 
Mengembangkan Lahan Pertanian 
 
Eko mengatakan pemerintah desa akan berusaha menambah luas lahan yang dikelola untuk pertanian organik itu. Ia memperkirakan, sistem pertanian itu akan dilakukan di lahan seluas hingga 3,5 hektar. Seluruh lahan akan menggunakan tanah kas desa.
 
"Ini supaya tanah kas desa tidak hilang dan tetap terjaga dan lestari dengan pertanian," jelas Eko.
 
Menurut dia, tak semua petani di desanya menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian utama. Sebab, desa tersebut mulai masuk kategori sub urban dengan tanda banyak masyarakat pendatang masuk dan menempati berbagai perumahan di kawasan itu. 
 
Tak hanya itu, para petani akhirnya memilih pertanian sebagai sampingan dengan pekerjaan utama sebagai buruh. "Petani ada, tapi bukan pemilik lahan. Petani yang memiliki lahan tak lebih dari satu hektar," ujarnya.
 
Menurut Eko, saat ini pihaknya hendak memberikan contoh lebih dulu bahwa sistem organik bisa memberi hasil lebih baik.
 
"Ini rekayasa sosial dengan membuat contoh. Rencana nanti akan ada kawasan ramah lingkungan. Mulai terdekat dulu, merembah merambah ke lahan pertanian lain," pungkas Eko.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif