Seorang pengunjung menikmati sensasi berfoto di bawah air di Umbul Ponggok, Klaten, Medcom.id - Pythag Kurniati
Seorang pengunjung menikmati sensasi berfoto di bawah air di Umbul Ponggok, Klaten, Medcom.id - Pythag Kurniati (Pythag Kurniati)

Junaedi, Sosok di Balik Desa Beromzet Rp14,2 M

Sosok Inspiratif
Pythag Kurniati • 21 Januari 2019 19:29
Klaten: Desa Ponggok, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, membuktikan diri sebagai desa yang bertaraf mandiri. Kemandirian itu pula yang mengundang banyak wisatawan datang ke desa tersebut.
 
Berfoto di dalam air atau underwater menjadi salah satu kegiatan wisatawan di Desa Ponggok. Beragam gaya yang dipotret, mulai dari bersepeda motor atau mengoperasikan laptop.
 
Ikan beraneka warna menjadi pemanis foto. Keindahan itu yang membuat Umbul Ponggok viral di media sosial.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Junaedi Mulyono, sosok di balik ketenaran Desa Ponggok. Junaedi adalah Kepala Desa Ponggok sejak 2007.
 
Junaedi membuat serangkaian terobosan untuk Desa Ponggok. Satu di antaranya mendirikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tirta Mandiri.
 
"Dulu usahanya cuma air bersih dan kredit. Modalnya cuma Rp100 juta. Tapi 2017, kami punya 11 unit usaha. Pendapatan kotor alias omzet Rp14,2 miliar setahun," ujar Junaedi kepada Medcom.id, Senin, 21 Januari 2019.
 
Junaedi, Sosok di Balik Desa Beromzet Rp14,2 M
(Junaedi Mulyono, Kepala Desa Ponggok, yang sukses mengembangkan perekonomian warga hingga beromzet Rp14,2 miliar, Medcom.id - Pythag Kurniati)
 
Salah satu unit usahanya adalah wisata umbul. Junaedi mengajak warga menyulap umbul atau kolam dari mata air alami. Saat ini, warga mengelola Umbul Ponggok dan Umbul Ciblon.
 
"Kami merevitalisasi umbul menjadi daerah wisata, pengelolaannya diserahkan ke BUMDes," ungkap Junaedi.
 
Bukan sekadar berenang, pemandangan bawah air menarik minat pengunjung. Selama sebulan, Junaedi mendata 40 ribu orang berdatangan ke umbul.
 
"Kedatangan wisatawan ini yang membuat ekonomi masyarakat bergerak," terang alumnus Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) itu.
 
Di sekitar objek wisata, warung makan dan toko sovenir muncul. Warga pun mengembangkan produk unggulan, misalnya olahan ikan nila.
 
Jumlah warga yang berminat urbanisasi ke kota pun berkurang. Sebab, banyak warga yang memilih untuk bekerja di sekitar umbul.
 
Keberhasilan itu tak lantas membuat Junaedi merasa cukup. Junaedi kini merintis keinginannya untuk menjadikan Ponggok sebagai pusat studi desa.
 
"Orang mau belajar tentang desa belajarlah ke Ponggok. Belajar peternakan, perikanan, pertanian, belajar tata ruang desa, BUMDes, ya ke Ponggok," pungkasnya.
 
 
 

(RRN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi