Warga membawa bayi mereka untuk di timbang berat badanya di Posyandu. (MI/Angga Yuniar)
Warga membawa bayi mereka untuk di timbang berat badanya di Posyandu. (MI/Angga Yuniar) (Patricia Vicka)

10 Desa di Kulon Progo Bakal Diintervensi Kasus Stunting

gizi kurang stunting
Patricia Vicka • 15 Maret 2018 15:10
Yogyakarta: Kabupaten Kulon Progo, Yogyakarta, masuk dalam 100 besar kabupaten yang mendapat intervensi penanggulangan stunting dari Kementerian Kesehatan. Sekitar 496 balita di sepuluh desa di Kabupaten Kulon Progo akan mendapat intervensi penanggulangan stunting jangka pendek pada 2018.
 
Sepuluh desa itu adalah Desa Nomporejo di Kecamatan Galur, Desa Tuksono di Kecamatan Sentolo, Desa Karangsari di Kecamatan Pengasih, Desa Sendangsari di Kecatan Pengasih, Desa Donomulyo di Kecamatan Nanggulan, Desa Kebonharjo, Sidoharjo, Herbosari, Ngargosari, dan Pagerharjo di Kecamatan Samigaluh.
 
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kulon Progo, Bambang Haryatno, mengatakan bentuk intervensi yang dilakukan adalah melihat faktor penyebab bayi yang terkena stunting. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


”Jika ada yang sakit. Kami obati. Kemudian kami beri makanan tambahan yang mengandung gizi tinggi. Kami kasih vitamin juga,” ujar Bambang melalui sambungan telepon pada Medcom.id di Yogyakarta, Kamis, 15 Maret 2018.
 
Bambang melanjutkan, ada banyak faktor yang menyebabkan stunting. Salah satunya adalah faktor keturunan, penyakit bawaan bayi, serta pola asuh pemberian makanan orang tua ke anak yang buruk.
 
”Faktor turunan sangat memengaruhi. Kalau orang tuanya pendek, anaknya juga pendek. Apalagi sekarang orang tua banyak yang tidak memperhatikan komposisi gizi makanan yang diberikan ke anak,” jelasnya.
 
Selain itu adapula balita stunting karena terkena penyakit cacingan dan memiliki penyakit bawaan lainnya.
 
Kepala Seksi Kesehatan Keluarga dan Gizi Dinkes Kulon Progo, Hunik Rimawati, mengatakan fokus intervensi dan pemenuhan gizi akan diberikan pada 1.000 hari pertama kehidupan bayi. Hal itu berguna agar balita bisa terlepas dari stunting. 
 
“Bayi stunting kalau diberi makanan bergizi dan sehat selama 1.000 hari kehidupan, maka perlahan bisa kembali normal seperti anak-anak lainnya,” katanya.
 
Ia menjelaskan bayi yang terkena stunting bisa terlihat sejak awal kelahiran yakni memiliki berat dan tinggi badan yang kurang dari balita umumnya.
 
“Bayi normal saat lahir memiliki berat badan di atas 2,5 kilogram dan tinggi badan di atas 48 sentimeter.  Kalau bayi stunting di bawah itu,” kata dia.
 
Sebagian besar balita stunting tinggal di wilayah perbukitan Menoreh yang memiliki kadar yodium sedikit. Pihaknya tengah meneliti apakah kekurangan yodium di wilayah itu berpengaruh pada tingkat stunting. Dinas Kesehatan Kulonprogo juga tengah menyusun strategi penanggulangan stanting yang komprehensif bersama dinas-dinas lainnya. 
 
Berdasarkan catatan Dinas Kesehatan Kulonprogo 2017, tercatat ada 3.496 dari 25.111 balita di Kulonprogo yang dinyatakan stunting. Jika ditilik dari peringkat, Kulonprogo masuk ke dalam tiga besar jumlah kasus balita stunting terbanyak di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. 
 

(LDS)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif