Tradisi Sewu Kupat di Kudus Pikat Wisatawan
Arak-arakan gunungan ketupat di Kudus, Jawa Tengah. (Medcom.id/Rhobi Shani)
Kudus: Belasan gunungan ketupat diarak dari Makam Sunan Muria di Desa Colo, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Tiba di Taman Ria Colo, gunungan ketupat langsung jadi rebutan warga. Tradisi tahunan ini disebut 'Sewu Kupat' yang digelar sepekan setelah Hari Raya Idulfitri.

Sewu dalam bahasa Jawa artinya seribu. Sedangkang kupat merupakan ketupat. Pantas saja, dalam tradisi ini terdapat belasan gunungan yang berisi ketupat.

Tidak hanya ketupat, setiap gunungan juga berisi berbagai hasil bumi lereng Gunung Muria dan jajanan berbahan beras ketan yang dibungkus janur, yaitu lepet. Gunungan itu dibawa oleh masyarakat Kecamatan Dawe dari masing-masing desa. 


Sebelum diarak, gunungan ketupat didoakan di Makam Sunan Muria. Tujuannya berharap keselamatan dan keberkahan kepada Sang Pencipta. Tradisi ini tidak hanya menarik warga Kota Kretek. Tak sedikit warga dari daerah-daerah sekitar Kudus turut serta. 

Muhammad Buhadi, warga Welahan Kabupaten Jepara sengaja datang untuk ikut prosesi tradisi ini. Di akhir acara, dia juga ikut berebut isi gunungan. Dia berharap apa yang didapat dari gunungan itu bisa membawa keberkahan.

“Karena sebelumnya telah didoakan, saya yakin ini membawa berkah,” kata Buhadi yang datang bersama keluarganya, Jumat, 22 Juni 2018.

Tahun ini meruapakan kali ketiga Buhadi mengikuti tradisi Sewu Kupat. Kedatangannya selain untuk menyaksikan  tradisi tahunan juga sekalian menikmati distinasi wisata di desa yang terletak di lereng Gunung Muria.

Nano, warga Boyolali yang juga datang bersama keluarganya ikut berebut isi gunungan. Ini kali pertama dia datang untuk menyaksikan tradisi Sewu Kupat. Pasalnya, tradisi yang sarat akan nilai kearifan budaya lokal itu cukup membuatnya terpukau. Dia mengaku belum pernah menemui tradisi yang mengarak gunungan berisi ketupat seperti tradisi Sewu Kupat ini.

“Ini pertama kali. Seru dan ramai. Tadi juga ikut berebut ketupat,” ungkap Nano.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kudus Yuli Kasiyanto mengatakan, tradisi ini merupakan agenda rutin tahunan. Adanya tradisi tersebut diharapkan bisa meningkatkan kuantitas wisatawan yang datang ke Desa Colo. Selain untuk berziarah ke Makam Sunan Muria, para wisatawan juga bisa menikmati destinasi wisata berupa tradisi lokal.

“Selain berziarah di Colo juga ada wisata tradisi yang rutin digelar setiap tahun berupa tradisi Sewu Kupat yang bisa dinikmati pengunjung,” kata Yuli.



(LDS)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id