Lasiyo Syaifudin, petani inspiratif yang membuat berbagai bibit pohon pisang di Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu, 16 Januari 2019. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim.
Lasiyo Syaifudin, petani inspiratif yang membuat berbagai bibit pohon pisang di Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Rabu, 16 Januari 2019. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim. (Ahmad Mustaqim)

Bangkit dari Gempa dan Raih Puluhan Penghargaan Berkat Pisang

Sosok Inspiratif
Ahmad Mustaqim • 17 Januari 2019 07:00
Bantul: Lasiyo Syaifudin terlihat menata polibag berisi anakan pohon pisang di samping rumahnya Dusun Ponggok, Sidomulyo, Kecamatan Bambanglipuro, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Berkat kegigihannya, beragam bibit pisang dengan banyak varietas tetap lestari. 
 
Kiprah lelaki berusia 64 tahun ini berawal dari kegigihannya mengomando Kelompok Petani Pemakai Air di desa setempat. Semula, ia hanya petani biasa dan nyambi sebagai penjaga salah satu toko di kawasan Bantul.
 
Lasiyo memulai perjuangan setelah Yogyakarta diguncang gempa pada 2006. Usai gempa itu, ia berkoordinasi dengan kelurahannya untuk berusaha membangkitkan rasa kalut akibat dampak gempa. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Dulu mikirnya, bagaimana caranya membangkitkan suasana kalut warga, bagaimana kalau warga budidaya pohon pisang," kata Lasiyo ditemui Medcom.id di kediamannya, Rabu pagi, 16 Januari 2019.
 
Ia mengakui banyak yang menentang rencana itu. Namun, ia berhasil meyakinkan pemerintah Desa Sidomulyo untuk memberikan bantuan. Saat itu, pemerintah desa mengeluarkan Peraturan Desa (Perdes) yang mengatur pemberian bantuan untuk warga.
 
Lasiyo menuturkan, isi Perdes itu secara spesifik menjelaskan barang siapa menanam bibit pisang raja satu hamparan lahan lebih 50 buah, dibelikan senilai Rp5 ribu per batang. Lasiyo menjadi salah satu yang mendapat bantuan karena lahannya bisa untuk menanam hingga 100 bibit pohon pisang.
 
"Saat itu bibit pisangnya pisang raja. Sebenarnya tak harus itu, tapi memang baru itu yang terpikirkan," ujar lelaki kelahiran 1955.
 
Setahun berselang, kelompok tani tersebut mendapat bantuan untuk pembelajaran budidaya pisang. Budidaya ini mulai dari penangkaran, pembibitan, penanganan penyakit, hingga pengolahan menjadi bibit siap jual. 
 
Tak kurang dari empat tahun dirinya belajar budidaya pohon pisang. Pemateri pembelajaran mulai dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Plasma Nutfah, Dinas Pertanian kabupaten dan provinsi DIY, hingga berbagai perguruan tinggi seperti Universitas Pembangunan Nasional (UPN) 'Veteran' Yogyakarta, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), hingga Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY). 
 
Ia menyebutkan, sudah lebih dari 20 varietas bibit pisang dibudidayakan di kediamannya. Misalnya, pisang jenis raja bulu, raja bagus, klutuk, ambon barangan, raja kuning, pisang emas kirana, dan pisang emas saling Jogja. Selain itu ada juga juga pisang kongo, dan pisang gading.
 
"Unggulannya (bibit) pisang raja, ambon, gepok, dan raja susu," ujar lelaki lulusan paket B tersebut.
 
Lasiyo berani menggaransi kualitas bibit pisang yang diproduksi. Pupuk hingga obat yang dipakai untuk memerangi hama tanpa campuran bahan kimia. 
 
Misalnya pupuk. Lasiyo memproduksi pupuk organik berasal dari sampah di sekitar rumahnya. Pun dengan obat-obatan yang alami. 
 
Ia mengaku, minimal melakukan ujicoba tak kurang dari tujuh kali dalam menerapkan pupuk dan obat. Meskipun ada bibit pisang yang mati, ia menilai itu hal wajar. 
 
"Semua pisang tak sulit dibudidayakan. Tergantung pembelajaran. Tak banyak petani yang melakukan budidaya," ujar pasangan Sujinah, 60 ini.
 
Harga bibit yang Lasiyo jual memang lebih mahal ketimbang di pasaran. Jika di pasaran bibit pohon pisang seharga Rp8 ribu, bibit produksi Lasiyo ada pada kisaran harga Rp12 ribu. Selisih harga tersebut karena keunggulan kualitas dan proses pembudidayaan dengan bahan organik.
 
"Pisang ini banyak dibutuhkan masyarakat. Per tandan harganya bisa Rp400 ribu sampai Rp500 ribu. Tergantung jenis dan kualitas pisangnya. Tapi memang harus sabar dalam budidaya (tanaman) pisangnya," ujarnya.
 
Lasiyo hingga kini hanya memiliki lahan sekitar 1300 meter persegi yang ditanami pisang. Di sisi lain, pembibitan dilakukan di samping rumah pribadinya.
 
Bersama kelompok petani pemakai air, Lasiyo juga mengelola koperasi beranama Agromirasa Bantul Yogyakarta (Amboy) dengan anggota 33 orang dari 12 kecamatan di Bantul.
 
"Setelah ada budidaya bibit pisang dan ada yang tanya pisang, kondisi lingkungan bisa terjaga. Pekarangan yang biasanya kosong dan gersang bisa ada manfaatnya," kata dia. 
 
Atas kerja kerasnya, lebih dari 50 penghargaan dari pemerintah hingga berbagai lembaga didapat Lasiyo, termasuk sebagai pelopor pangan lokal 2018. Namun, ia menilai hal itu semata bonus dari Tuhan untuk bisa berkontribusi kepada masyarakat dan lingkungan.
 
"Saya sempat ingin memproduksi olahan (buah) pisang. Tapi diimbau pemerintah (Bantul) untuk fokus pada budidaya bibit, alasannya jarang sekali ada yang melakukannya," ungkap Lasiyo.
 
Lasiyo tak cemas dengan perjuangannya. Memiliki dua anak, yakni Nurlaila dan Bisri Mustofa, Lasiyo sudah menyiapkan generasi penerusnya. "Anak saya Bisri sudah saya ajari banyak untuk budidaya (bibit pisang)," pungkas lelaki dengan dua cucu ini.
 

(DEN)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi